SIARAN PERS: Cat Berbasis Pelarut dengan Timbal Tinggi Dijual di Indonesia


Untuk dirilis segera

Kontak:

Yuyun Ismawati, yuyun@nexus3foundation.org, +44 758 376 8707

Sonia Buftheim, sonia@nexus3foundation.org, +62 877 8237 8890


27 Oktober 2021, Jakarta, Indonesia - Sebuah studi baru tentang timbal dalam cat dekoratif di Indonesia yang dirilis hari ini oleh Yayasan Nexus3 menemukan bahwa sekitar tiga perempat sampel cat yang dianalisis tidak memenuhi standar yang dapat dicapai secara global 90 bagian per juta (ppm). Cat warna cerah dengan kandungan timbal tinggi digunakan secara luas di fasilitas anak-anak dan ruang publik.


“Warna-warna cerah bagus untuk merangsang otak anak. Namun, cat dengan warna cerah dan konsentrasi timbal yang tinggi akan merusak otak mereka. Dampak kesehatan dari paparan timbal pada otak anak-anak adalah seumur hidup, tidak dapat diubah dan tidak dapat diobati,” kata Yuyun Ismawati, Penasihat Senior dari Nexus3. “Perusahaan harus berhenti berargumen bahwa ada permintaan yang kuat untuk warna-warna cerah yang murah. Tidak etis untuk mendapatkan keuntungan dengan mempertaruhkan masa depan anak-anak kita dengan cat bertimbal. Untungnya, beberapa produsen cat di Indonesia mulai menghilangkan timbal dari cat mereka, yang menunjukkan bahwa ada teknologi di Indonesia untuk memproduksi cat yang aman dari timbal.”


Pada tahun 2020-2021, tim Nexus3 secara acak mengumpulkan 120 sampel kaleng cat berbasis pelarut dan cat industri yang dijual untuk keperluan rumah tangga dari toko-toko di 10 kota di Indonesia. Cat-cat tersebut mewakili 66 merek berbeda yang diproduksi oleh 47 produsen.


Studi analisis data untuk laporan ini dilakukan sebagai bagian dari Kampanye Global IPEN untuk Penghapusan Cat Bertimbal. Studi ini dilakukan di Indonesia oleh Nexus3 bekerja sama dengan IPEN (International Pollutants Elimination Network), didanai oleh GiveWell, dan Pemerintah Swedia.


Temuan utama dari studi tahun 2021 ini meliputi:

  • 23 dari 101 sampel cat berbasis pelarut untuk digunakan di rumah (23 persen dari sampel cat) mengandung konsentrasi timbal sama dengan atau di bawah 90 ppm, menunjukkan bahwa teknologi untuk memproduksi cat tanpa bahan timbal ada di Indonesia;

  • 88 dari 120 sampel cat yang dianalisis untuk keperluan rumah tangga dan industri (73 persen dari sampel cat) adalah cat bertimbal, yaitu, mengandung konsentrasi timbal di atas 90 bagian per juta (ppm, cat berat kering);

  • 47 sampel cat (39 persen dari sampel cat) mengandung konsentrasi timbal yang sangat tinggi di atas 10.000 ppm. Konsentrasi timbal tertinggi yang terdeteksi adalah 250.000 ppm dalam cat industri marka jalan kuning dan 150.000 ppm dalam cat dekoratif kuning yang dijual untuk digunakan di rumah;

  • Dua sampel cat dari merek Primatan mengandung kadar timbal 12.000 ppm dan 8.900 ppm meskipun memiliki klaim “tanpa timbal” pada labelnya; dan

  • Kadar timbal paling berbahaya cenderung pada cat berwarna oranye (91%), kuning (55%), hijau (57%), dan merah (20%).

​​Saat ini belum ada peraturan yang mengikat secara hukum yang melarang penggunaan timbal dalam cat di Indonesia. Sementara standar yang ada di Indonesia menetapkan batas maksimum 600 ppm untuk cat dekoratif berbasis pelarut organik, saat ini sedang dalam proses peninjauan untuk menurunkan batas hingga 90 ppm pada akhir tahun. Namun, standar ini tidak wajib, dan peraturan yang akan menetapkan kandungan timbal total maksimum 90 ppm di semua jenis cat, termasuk cat dekoratif, arsitektur, dan industri, perlu ditetapkan untuk melindungi kesehatan manusia.


“Secara global, kita sekarang melihat semakin banyak negara yang telah memulai mengembangkan kontrol dan peraturan yang kuat untuk melarang penggunaan timbal dalam semua jenis cat demi melindungi kesehatan anak-anak. Kami bersama Nexus3 mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengadopsi dan menetapkan peraturan yang mengikat secara hukum yang kuat untuk penggunaan timbal dalam cat. Selain itu, penting bahwa para produsen cat tunduk pada sertifikasi kandungan timbal independen untuk memastikan bahwa cat berlabel "bebas timbal" atau "tanpa timbal tambahan" tidak mengandung timbal tingkat tinggi seperti yang terlihat dalam penelitian ini,” kata Jeiel Guarino, Global Lead Paint Elimination Campaigner, IPEN.


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), timbal tidak memiliki peran penting dalam tubuh manusia, dan keracunan timbal menyumbang sekitar 0,6% dari beban penyakit global. Bukti berkurangnya kecerdasan yang disebabkan oleh paparan timbal pada masa kanak-kanak telah membuat WHO memasukkan “keterbelakangan mental yang disebabkan oleh timbal” sebagai penyakit yang diakui.


Anak-anak, usia 0-6, melakukan perilaku tangan-ke-mulut yang biasa ditemui namun kebiasaan ini paling berisiko menjadi pintu masuk polutan yang dapat merusak kecerdasan dan mengganggu perkembangan mental mereka, terutama akibat paparan debu dan tanah bertimbal. Di Indonesia ada 33 juta anak usia emas yang berisiko terpajan debu timbal dari cat berwarna-warni.


Cat bertimbal adalah sumber pajanan timbal yang signifikan pada masa kanak-kanak. Istilah cat timbal digunakan dalam laporan ini untuk menggambarkan cat yang telah dicampur dengan satu atau lebih senyawa timbal. Konsentrasi batas aman untuk cat timbal yang digunakan dalam laporan adalah 90 bagian per juta (ppm, berat kering cat). Angka ini merupakan batas hukum paling ketat yang diberlakukan secara global saat ini.


Nexus3 dan IPEN merekomendasikan tindakan berikut untuk melanjutkan upaya melindungi anak-anak Indonesia dari paparan timbal:

  • Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus segera menyusun peraturan yang akan melarang pembuatan, impor, ekspor, distribusi, penjualan, dan penggunaan semua cat yang mengandung konsentrasi timbal total melebihi 90 ppm.

  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Kesehatan harus mewajibkan perusahaan cat untuk menyajikan informasi yang memadai yang menunjukkan kandungan berbahaya, seperti pelarut, pada label kaleng cat.

  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat harus mencantumkan spesifikasi teknis non-timbal untuk cat marka jalan dan cat semprot di semua tender, terutama untuk infrastruktur publik.

  • Perusahaan cat yang masih memproduksi cat timbal harus segera berhenti menggunakan bahan berbasis timbal dalam formulasi cat.

  • Konsumen cat harus meminta cat tanpa timbal dari produsen dan pengecer cat, yang harus disajikan atau ditampilkan dalam label.

  • Kelompok kesehatan masyarakat, organisasi konsumen dan entitas terkait lainnya harus mendukung penghapusan cat timbal dan melakukan kegiatan untuk menginformasikan publik dan melindungi anak-anak dari paparan timbal melalui cat timbal, timbal dalam debu dan tanah, dan sumber timbal lainnya.

SELESAI

Dokumen Siaran Pers ini dapat diunduh disini:

Final_PR_LiP Report Launching 27 Oct_BAH
.pdf
Download PDF • 412KB




Bahasa Indonesia


Ringkasan Eksekutif dari laporan ini dapat diunduh disini:

251021_Ringkasan_Eksekutif_BAH
.pdf
Download PDF • 339KB




Bahasa Indonesia


Dokumen Laporan lengkap dapat diunduh disini:

Oct2021_Indonesia_Paint_Report_BAH
.pdf
Download PDF • 1.63MB




Bahasa Indonesia

Featured Posts