PENGELOLAAN LIMBAH LAMPU FLUORESCENT

Lampu fluorescent biasanya dikenal di masyarakat sebagai lampu TL (tube lamp) atau lampu tabung fluorescent. Lampu fluorescent sangat populer di indonesia karena mampu menghasilkan cahaya yang terang sementara penggunaan energinya cukup hemat dan harganya yang sangat terjangkau. Di dalam tabung lampu fluorescent, terdapat berbagai kandungan gas, salah satunya adalah merkuri, yang apabila tidak ditangani dengan tepat akan dapat mencemari lingkungan kita yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan tubuh manusia.


Uap merkuri dari lampu fluorescent yang pecah dapat lepas ke udara dan membahayakan lingkungan dan makhluk hidup disekitarnya, karena dapat terhirup kedalam tubuh. Merkuri dalam lampu fluorescent yang dibuang sembarangan juga dapat mencemari udara, tanah dan air tanah. Apabila uap merkuri ini mencemari lingkungan dan berubah bentuk menjadi senyawa merkuri organik, dampaknya sangat berbahaya untuk kesehatan lingkungan dan bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada manusia mulai dari gangguan syaraf, ginjal, hati, penglihatan dan pendengaran bahkan bisa sampai mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. Karena alasan ini limbah lampu fluorescent dikategorikan sebagai limbah B3 atau limbah bahan berbahaya dan beracun yang harus ditangani dengan metode yang aman dan tepat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Metode penanganan limbah lampu fluorescent yang aman dan tepat adalah membuang lampu fluorescent yang sudah tidak terpakai ke tempat pengumpulan limbah lampu fluorescent atau limbah B3, dan memastikan jangan sampai lampu tersebut pecah agar kandungan merkuri yang ada di dalamnya tidak terlepas ke udara. Kemudian, Limbah lampu fluorescent yang dipisahkan dari sampah rumah tangga lainnya untuk dikelola sebagai limbah B3. Limbah lampu fluorescent yang sudah dipisahkan ini kemudian diangkut oleh petugas dari instansi yang berwenang. Limbah ini akan diserahkan ke fasilitas pengolahan B3 untuk diolah dengan aman sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengolahan limbah lampu fluorescent dilakukan dengan alat yang disebut bulb eater. Alat ini merupakan sebuah sistem tertutup yang mampu menghancurkan lampu fluorescent sekaligus isolasi debu dan uap merkuri di dalam filter bag dan HEPA filter, untuk kemudian distabilkan dan bisa dibuang ke tempat penimbunan akhir limbah B3.


Proses pengolahan limbah lampu fluorescent memang terlihat rumit dan panjang, namun hal ini perlu dilakukan untuk mencegah pencemaran merkuri ke lingkungan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah pencemaran merkuri dari lampu fluorescent adalah dengan menghentikan penggunaan lampu fluorescent dan menggantinya dengan alternatif lampu lain yang lebih aman dan ramah lingkungan seperti lampu LED.


WATCH THIS VIDEO FOR MORE INFORMATION:






Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags