Konferensi Regional Daring Mendorong Sains Warga sebagai Sarana Masyarakat untuk Mencapai SDGs


4 November 2020

Kontak Media:

Lia Esquillo: lesquillo@ecowastecoalition.org

Penchom Saetang: penchom.earth@gmail.com

Yuyun Ismawati: yuyun@nexus3foundation.org

Siaran Pers

Konferensi Regional Daring Mendorong Sains Warga sebagai Sarana Masyarakat untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

(Kelompok masyarakat memanfaatkan sains warga untuk menangani permasalahan kimia dan limbah yang mengancam kesehatan masyarakat dan lingkungan)

4 November 2020, Bali/Bangkok/Manila. Partisipasi ilmuwan non-profesional dalam penelitian ilmiah atau upaya pemantauan dapat memberdayakan organisasi dan gerakan akar rumput untuk mewujudkan masa depan yang berkelanjutan dan bebas racun bagi semua.

Sains warga atau Citizen science, sebagaimana biasa disebut, telah menjadi sarana strategis yang memungkinkan masyarakat yang terkena dampak masalah kimia dan limbah untuk memberdayakan diri dengan data dan informasi yang dapat digunakan untuk menuntut hak mereka atas lingkungan yang sehat dan aman. Sebuah konferensi regional daring empat bagian yang dimulai hari ini akan menyoroti penerapan citizen science dalam menangani masalah-masalah yang sebagian besar mempengaruhi masyarakat miskin dan terpinggirkan, dengan anak-anak, wanita hamil, dan pekerja pada risiko yang lebih besar. Ini akan mempertemukan lebih dari 70 pendukung, praktisi, dan pelajar citizen science dari 11 negara.

Konferensi Virtual International Pollutants Elimination Network - Southeast and East Asia (IPEN-SEA) yang berlangsung di tengah pandemi COVID-19 ini diselenggarakan bersama oleh Nexus3 Foundation-Indonesia, EcoWaste Coalition-Filipina dan Ecological Alert and Recovery-Thailand dengan dukungan dari Stockholm Environment Institute (SEI) dan IPEN.

“Selama bertahun-tahun, sains warga telah berkembang menjadi sarana yang praktis dan ampuh bagi para korban yang tidak berdaya yang sering menderita dalam diam karena polusi yang merusak yang disebabkan oleh kepentingan komersial dan industri yang kuat,” kata Penchom Saetang, Direktur Eksekutif dari EARTH dan praktisi sains warga selama lebih dari 20 tahun.

“Dengan mengembangkan pengetahuan ilmiah, keterampilan teknis dan kemampuan kritis mereka, korban polusi, atau penyintas, telah menemukan suara mereka dan dapat menggunakan hasil studi mereka sendiri untuk bernegosiasi dengan para pencemar, membela hak asasi manusia mereka di pengadilan dan mengadvokasi reformasi kebijakan,” tambahnya.

Yuyun Ismawati, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation menambahkan: "Dalam sains warga, LSM dan kelompok masyarakat akar rumput merupakan subyek dan pelaku dari investigasi, bukan subyek dari proyek penelitian. Dalam banyak kasus, hasil kerja advokasi sains warga berkontribusi pada perubahan kebijakan baik di tingkat daerah maupun nasional."

Dalam program hari ini, dipaparkan beberapa contoh upaya sains warga di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Upaya tersebut antara lain pemantauan konsentrasi merkuri di udara di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Denpasar, Bali, Indonesia, yang akhirnya berujung pada dikeluarkannya kebijakan pemerintah untuk menarik alat kesehatan yang mengandung merkuri; pengukuran kandungan timbal dari peralatan taman bermain Penang, Malaysia, yang selanjutnya mendorong urgensi untuk mengadopsi peraturan yang melarang timbal di dalam cat; dan pengambilan sampel udara di Provinsi Rayong, Thailand yang mendeteksi tingkat polutan udara yang berlebihan, termasuk benzena dan vinil klorida penyebab kanker, yang mendorong pemerintah untuk mengeluarkan pemberitahuan tentang tingkat standar tahunan senyawa organik yang mudah menguap di udara ambien untuk sembilan bahan kimia yang sangat beracun.

Topik mengenai bagaimana sains warga dapat digunakan dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) sedang berkembang pada saat ini, menurut Rachel Pateman, seorang peneliti di SEI, University of York. SDG, yang diadopsi oleh negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015, berupaya untuk mengakhiri kemiskinan dan deprivasi lainnya, meningkatkan kesehatan dan pendidikan, mengurangi ketimpangan dan memacu pertumbuhan ekonomi, sambil mengatasi perubahan iklim dan melestarikan keanekaragaman hayati laut dan darat.

“Sains warga dapat membantu mengisi kesenjangan data untuk memantau indikator-indikator SDG dan dalam melokalisasi pemantauan indicator, khususnya di wilayah yang kurang dalam pelaporan. Ini dapat membantu untuk mengedepankan isu-isu yang penting atau yang menjadi perhatian dari komunitas lokal yang mungkin terlewatkan dalam diskusi tingkat yang lebih tinggi. Dan ini juga bisa menjadi sebuah cara untuk menyatukan pemangku kepentingan yang berbeda, termasuk masyarakat, untuk membangun pemahaman bersama dan bersama-sama mengembangkan solusi untuk tantangan keberlanjutan,” kata Pateman.

“Terdapat banyak potensi dari sains warga untuk digunakan untuk memantau, melokalkan, mendefinisikan dan mengimplementasikan SDG, namun ada beberapa tantangan kritis yang perlu ditangani agar potensi ini dapat direalisasikan,” tambahnya.

-selesai-


Dokumen Siaran Pers ini dapat diunduh disini:

English:

PR re Virtual Conference 2020_EN
.pdf
Download PDF • 122KB

Bahasa Indonesia:

PR re Virtual Conference 2020_BAH
.pdf
Download PDF • 115KB

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA