Kiriman Sampah Plastik Ilegal dari AS (bagian 2): Perbedaan status di Konvensi Basel




22 Maret 2021 - Jakarta. Pada hari ini, Selasa 16 Maret 2021, ada tiga peti kemas limbah plastik LDPE yang dikirim dari California ke Pelabuhan Belawan, Medan. Pengiriman ini kemungkinan besar ilegal karena Indonesia sebagai Pihak Basel, tidak dapat menerima limbah yang dikontrol Basel dari AS (bukan negara Pihak Basel). Hal ini sesuai dengan aturan Larangan perdagangan Pihak non-Pihak yang terdapat dalam Konvensi (Pasal 4.5). Limbah ini dinyatakan sebagai Scrap LDPE. Nexus3 dan BAN mendesak pemerintah Indonesia untuk menyita pengiriman ilegal ini.

Indonesia telah meratifikasi Basel Amendments, telah mengeluarkan peraturan baru tentang perdagangan plastik dan limbah non-B3 lainnya untuk keperluan industri. Selain itu SKB 3 Menteri dan KaPOLRI telah menetapkan kontaminan 2%.

Kami kembali memohon perhatian dari Basel Convention Competent authority (CA)/Basel Convention Focal point (FP), salamanca hal ini DirJen PSLB3, Ibu Rosa Vivien Ratnawati untuk membaca lagi peringatan (alert) yang disampaikan oleh Basel Action Network (BAN) minggu lalu tentang masuknya sampah plastik dari Amerika Serikat yang tiba beberapa hari yang lalu (16 Maret 2021) melalui Pelabuhan Belawan, kemungkinan besar adalah ilegal untuk diimpor ke Indonesia.

Kami mengacu pada informasi yang kami sampaikan dalam laporan ini (terlampir).

Kesimpulan BAN tentang kemungkinan pengiriman ilegal ini mengacu kepada amandemen sampah plastik baru yang diadopsi pada COP14 sebagaimana dicantumkan dalam Decision 14/12. Keputusan ini merevisi tiga lampiran dan mengelompokkan sampah plastik menjadi tiga kategori.


Pertama, ada sampah plastik yang dianggap tidak berbahaya (B3011, Lampiran IX) dan di luar kendali Konvensi. Kedua, ada sampah plastik yang dianggap berbahaya (A3210, Lampiran VIII) dan terakhir, yang terpenting, ada sampah plastik baru untuk pertimbangan khusus (Y48 Lampiran II).

Y48 dan A3210 termasuk dalam ruang lingkup prosedur kendali Konvensi Basel. Dan, tentu saja, Pasal 4 ayat 5 Konvensi tidak mengizinkan perdagangan limbah yang dikendalikan Basel antara Para Pihak dan non-Pihak. Amerika Serikat adalah non-Pihak sehingga negara Pihak Basel tidak diizinkan untuk menerima impor dari Amerika Serikat dari daftar Y48 atau A3210 mana pun.

Peringatan BAN menegaskan bahwa ada kemungkinan besar bahwa limbah yang ditunjukkan dalam ketiga contoh di tiga negara adalah limbah Y48 baik karena gagal:

  1. memenuhi standar kontaminasi yang ditegaskan dalam keputusan baru ("hampir secara eksklusif terdiri dari"), atau

  2. memenuhi syarat pengiriman polimer tunggal yang tidak dicampur dan disortir (dengan pengecualian tunggal sebagai campuran polimer PE, PET dan PP), atau

  3. bebas dari polimer terhalogenasi seperti PVC, atau

  4. ditujukan ke fasilitas yang berwawasan lingkungan, atau

  5. dikelola di bawah penunjukan Lampiran IV R3 Konvensi.

Penentuan di atas tidak dapat dilakukan dengan inspeksi visual saja. Pertama, inspektur perlu membaca Bill of Ladings dan menentukan apakah kiriman tersebut benar-benar berisi apa yang tertulis di dalamnya. Jika dokumen pengiriman menyatakan, misalnya, bahwa kiriman tersebut mengandung PVC, kami dapat memperkirakan bahwa kiriman tersebut memang mengandung PVC dan oleh karena itu merupakan pengiriman ilegal dari negara yang bukan Pihak Basel, atau telah disalahartikan. Bagaimanapun, pengiriman itu ilegal (jika mengandung PVC) atau tidak tepat (jika salah dikarakterisasi).


Sehubungan dengan penentuan apakah pengiriman dalam bentuk tercampur atau terkontaminasi sampai tingkat yang signifikan, atau di atas ambang batas kontaminasi nasional yang ditetapkan (misalnya 2% untuk Indonesia, 5% untuk Malaysia), Ibu harus menemukan deklarasi terlampir atau hasil pengujian yang menyertai pengiriman, atau inspektur harus mensyaratkan pernyataan itu sebagai bagian dari tumpukan dibuka. Beberapa pengujian dilakukan untuk menentukan persentase bahan non-target (bukan polimer yang akan didaurulang oleh fasilitas daurulang).

Pengujian kemungkinan perlu menyertakan identifikasi polimer apa saja yang ditemukan untuk menentukan apakah campuran ditemukan, apakah terdapat bahan non-plastik seperti kain atau kertas atau tanah alami. Jika kiriman diberi label sebagai LDPE (sejenis PE), dan polimer seperti polistiren atau PVC ditemukan di dalam tumpukan juga maka akan dengan cepat ditentukan sebagai Y48 dan jika datang dari AS maka ilegal.


Demikian juga, jika ditemukan persentase (misalnya lebih besar dari 2% dalam kasus Indonesia) kertas, dan kayu dan tanah dll, maka pengiriman itu akan gagal memenuhi kriteria tidak terkontaminasi.

Sekali lagi, inspeksi visual saja kemungkinan tidak akan meyakinkan. Membuka tumpukan dan pengujian kemungkinan akan diperlukan.


Kontak: Yuyun Ismawati, Senior Advisor

Nexus3 Foundation

Email: yuyun@nexus3foundation.org

WA: +447583768707


Jim Puckett, Executive Director

Basel Action Network

Email: jpuckett@ban.org

Ph: +1 (206) 652-5555

https://www.ban.org/





Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags