FSO J.NAT: Ekspor dari kapal beracun yang melanggar hukum internasional



Briefing Paper by NGO Shipbreaking Platform - 19 April 2020


Detail Kapal

FSO (Floating Storage and Offloading) J. NAT, yang sebelumnya bernama JESSLYN NATUNA, merupakan kapal penyimpanan/produksi yang dibuat pada tahun 1983. Kapal ini dimiliki oleh perusahaan Indonesia PT Global Niaga Bersama. Menurut informasi yang diperoleh oleh Nexus3 Foundation, unit ini disewa oleh PT Pertalahan Arnebatara Natuna (PT PAN) sejak penempatannya di Blok Udang di bagian utara Laut Natuna (Indonesia). PT PAN memiliki Kontrak Bantuan Teknis dengan PT Pertamina EP untuk menjalankan wilayah tersebut. PT Pertamina EP adalah salah satu operator Eksplorasi & Produksi yang memiliki perjanjian bisnis dengan SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi),mewakili pemerintah Indonesia.

Nama: FSO J. NAT

Nama sebelumnya: Jesslyn Natuna

IMO # 8100909

GT: 37380

Tahun pembuatan: 1983

Jenis: FSO, Oil

Bendera: Palau

Bendera sebelumnya: Indonesia


Penjualan Kapal Akhir Masa Pakai

Menurut database maritim, kapal tersebut dijual oleh PT Global Niaga Bersama kepada pembeli tunai (cash buyer) SOMAP International Pte Ltd pada bulan Agustus 2019.

SOMAP merupakan perusahaan yang berspesialisasi dalam perdagangan akhir masa pakai kapal-kapal ke kawasan pesisir di Asia Selatan, tempat dimana kapal-kapal dibongkar dengan cara yang kotor dan berbahaya. SOMAP tidak mengoperasikan kapal selain pada pelayaran terakhir kapal ke lokasi pembongkarannya di Asia Selatan.

Para pembeli tunai membayar perusahaan pelayaran dimuka untuk kapal-kapal yang mendekati masa akhir pakai (end of life). Penjualan akhir operasional dengan bantuan para pembeli tunai biasanya mencakup perubahan bendera dan pendaftaran kapal dengan nama baru dalam upaya menyembunyikan asal usul kapal dan memanfaatkan keuntungan finansial.

Pada 19 September 2019, SOMAP mengubah bendera kapal dari Indonesia ke Palau dan nama kapal dari Jesslyn Natuna menjadi J. NAT. Sertifikat pendaftaran dari Republik Palau “dikeluarkan untuk perjalanan tunggal untuk pembongkaran yang dilakukan dari Batam, Indonesia ke Bhavnagar/Chittagong/Gadani”.

Bhavnagar/Alang (India), Chittagong (Bangladesh) dan Gadani (Pakistan) merupakan tiga kawasan pesisir di Asia Selatan dimana sebagian besar kapal di akhir masa pakainya dibuang setiap tahun. Bukti menunjukkan bahwa Chittagong, Bangladesh sebagai tujuan akhir dari kapal tersebut.


Toksisitas

Penjualan untuk pembongkaran adalah bukti dari niat pemilik kapal untuk membuang sebagaimana disyaratkan dalam Konvensi Basel tentang Pengendalian Perpindahan Lintas Batas Limbah Berbahaya Beracun dan Pembuangannya, yang mendefinisikan kapal-kapal akhir masa pakai sebagai limbah berbahaya dan beracun karena sebagian besar komponen kapal berupa senyawa toksik (Keputusan VII/26). Kapal-kapal tersebut mengandung bahan berbahaya seperti minyak residu, PCBs, asbes, dan logam berat di dalam struktur kapal, dan karenanya termasuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Berdasarkan jenis, umur dan wilayah geografis operasi kapal, sangat mungkin untuk diasumsikan bahwa J. NAT mengandung sejumlah besar zat yang disebutkan di atas di dalam strukturnya.

Menurut sumber yang dirahasiakan, operasi pembersihan sebagian dilakukan di atas kapal. Limbah lumpur minyak sedang diproses di atas kapal, ketika kontraktor yang disewa PT Greenindo Riau Utama diperintahkan untuk menghentikan kegiatan setelah terdapat pertanyaan sehubungan dengan keselamatan dalam memasuki tangki. Limbah olahan (lebih dari 1500 ton), yang diduga terkontaminasi merkuri, tidak pernah dibawa ke darat di Batam. Hasil laboratorium analisa lumpur, yang dilakukan oleh pihak anonim, menunjukkan kontaminasi merkuri dalam konsentrasi cukup tinggi.

Penting untuk dicatat bahwa baja kapal itu sendiri kemungkinan terkontaminasi merkuri. Merkuri adalah unsur yang ditemukan secara alami di hampir semua ladang minyak dan gas. Konsentrasi merkuri di wilayah Asia Timur sangat tinggi. Merkuri dapat mengkontaminasi peralatan pemrosesan hidrokarbon dan ballast water dari unit-unit lepas pantai.

Selain itu, merkuri juga dapat ditemukan dalam termometer, sakelar listrik, sakelar bertingkat, dan perlengkapan lampu. Organisasi Kesehatan Dunia mengelompokkan merkuri ke dalam salah satu dari sepuluh bahan kimia teratas yang menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat. Paparan uap merkuri dalam kadar rendah dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Paparan tingkat tinggi dapat merusak sistem saraf, pencernaan dan kekebalan tubuh dan organ-organ seperti paru-paru dan ginjal.

Kehadiran limbah berbahaya dan beracun di dalam FSO J. NAT juga dikonfirmasi lewat bukti dokumen pemerintah. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau, di atas FSO J. NAT terdapat 60 ton minyak lumpur, 1000 ton minyak slop, dan 500 ton air berminyak di atas kapal. Yang mengejutkan, laporan itu sendiri menyatakan bahwa limbah tidak akan diproses di Indonesia, tetapi akan dibawa ke Chittagong, Bangladesh di atas kapal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bangladesh tidak memiliki kapasitas untuk menangani segala jenis limbah berbahaya dan beracun di hilir (misalnya penyimpanan dan pengolahan).

Di antara kewajiban di dalam Konvensi Basel yang diperlukan untuk limbah berbahaya dan beracun yang akan diekspor secara legal adalah persyaratan untuk Pemberitahuan dan Persetujuan dari negara pengimpor dan negara transit yang harus mencakup karakterisasi penuh dari jumlah dan jenis bahan berbahaya dan beracun di kapal (Pasal 6).

Persyaratan untuk Pemberitahuan dan Persetujuan tampaknya tidak dipenuhi. Lebih lanjut, kontaminasi merkuri yang kemungkinan masih tertinggal di atas FSO J.NAT tidak dinyatakan dalam dokumen. Memalsukan, atau salah mengartikan dokumen-dokumen merupakan tindakan kriminal berdasarkan Konvensi Basel dan dianggap sebagai perdagangan ilegal seperti yang didefinisikan oleh Pasal 9(1)(c) dari Konvensi.


Pergerakan Kapal

FSO J. NAT meninggalkan Batam pada pagi hari tanggal 18 April 2020. Waktu itu ditarik oleh tug boat S CAS (IMO 8411047), yang dioperasikan oleh perusahaan India, Prayati Shipping Pvt Ltd.

Pusat data maritim menghubungkan Prayati Shipping dengan puluhan penjualan kapal masa akhir pakai ke kawasan pesisir Asia Selatan dalam lima tahun terakhir.

Izin pelabuhan untuk keberangkatan kapal diberikan pada tanggal 17 April 2020. Menurut dokumen resmi, kapten S CAS adalah Alexander Potapov. Tangkapan layar percakapan WhatsApp tampaknya menunjukkan bahwa kapten baru-baru ini mengatakan kepada Penjaga Pantai: “Tidak ada yang bisa menghentikan jnat terkait lepas jangkar, sangat berbahaya jika ada otoritas yang menghentikan kita di perairan Indonesia. Jadi mohon komunikasi dengan Angkatan Laut. Terima kasih".

Rumornya adalah bahwa sebagian limbah dapat dijual di perairan internasional (Lepas Batas Pelabuhan) kepada pembeli yang tidak dikenal. Kapal kemudian akan menuju Bangladesh.

Beberapa organisasi lokal dan internasional memperingatkan otoritas yang berwenang di Indonesia sebelum ekspor ilegal FSO J. NAT untuk pembuangannya ke Bangladesh. Pada 15 April, LSM lokal KPLHI mengirimkan formulir laporan/pengaduan daring ke KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia).

Pada 17 April, LSM KPLHI mengirimkan peringatan baru kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Pada 17 April 2020, NGO Shipbreaking Platform, Basel Action Network (BAN) dan Nexus3 Foundation memperingatkan otoritas yang berwenang di Indonesia (misalnya Basel Focal Point, Basel Convention Regional Centre for South-East Asia, SKK Migas), mendesak mereka untuk menghentikan ekspor dari FSO J. NAT.

Hingga saat ini, belum ada tindakan yang dilakukan oleh otoritas yang berwenang. Peringatan-peringatan baru akan dikirimkan ke otoritas Bangladesh (sebagai negara impor Bangladesh) untuk mencegah kapal berlabuh di negara tujuan.

Kasus ini menyerupai ekspor kapal Yetagun yang mengandung banyak merkuri yang terkenal baru-baru ini dari Indonesia ke Pesisir Alang, India.


Legislasi internasional yang relevan

Konvensi Basel

Konvensi Minamata

Konvensi MARPOL


Selengkapnya dapat membaca media briefing dibawah ini.

040520 FSO J. NAT Briefing_ID
.pdf
Download PDF • 1.04MB

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA