© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Please reload

Recent Posts

SIARAN PERS - Dioksin: Dari dua desa ke duabelas kota

November 28, 2019

1/1
Please reload

Featured Posts

Hasil audit merek di sekolah-sekolah di Bali: Mayora adalah perusahaan yang sampah kemasannya terbanyak ditemukan.

November 15, 2019

 

Kontak: 

Nindhita Proboretno, nindhita@balifokus.asia, +62 818 08322 339

Krishna Zaki, krishna@balifokus.asia , +6281230002825

 

 

15 November 2019 - Denpasar, Bali. Yayasan BaliFokus/Nexus3 berpartisipasi dalam #BrandAudit2019 atau audit merek dari #BreakFreeFromPlastic yang dilakukan di 3 sekolah di 3 Kabupaten Provinsi Bali yaitu SD Negeri 4 Yangapi Kabupaten Bangli, SMP Negeri 3 Kuta Utara Kabupaten Badung dan SD Hainan School Kota Denpasar.  

 

Audit merek ini dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut pada 11-18 September 2019 lalu. Hasil keseluruhan audit merek sampah plastik di sekolah-sekolah tersebut menunjukkan bahwa 3 (tiga) besar perusahaan penghasil sampah plastik di sekolah-sekolah adalah Mayora, Orang Tua, dan Indofood.

 

"Beberapa tahun terakhir kita hanya berfokus pada hasil brand audit global yang menunjukkan Coca-Cola, Nestle dan Pepsico sebagai penghasil pencemar plastik tertinggi di dunia. Sedangkan di dalam negeri, hasil brand audit Nexus3, menunjukkan perusahaan multinasional Indonesia: Indofood, Mayora dan Orang Tua menghasilkan limbah kemasan plastik dari produk-produknya yang sulit terurai di lingkungan dan bernilai rendah untuk didaurulang,” ujar Yuyun Ismawati, Penasihat Senior Yayasan Nexus3/BaliFokus. 

 

Audit merek adalah kegiatan yang diinisiasi oleh #BreakFreeFromPlastic untuk mengidentifikasi merek-merek sampah plastik sekali pakai dan mencatat hasil datanya yang kemudian digunakan untuk meminta perusahaan tersebut supaya bertanggung jawab.

 

Ketiga perusahaan hasil temuan Nexus3 merupakan perusahaan multinasional Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir selalu masuk kedalam daftar perusahaan pencemar sampah plastik tertinggi di Indonesia. Indonesia dicap sebagai negara yang berkontribusi terhadap sampah plastik ke laut karena tidak mampu mengatasi permasalahan sampah plastik. Padahal sebetulnya perusahaan-perusahaan ini juga memiliki tanggung jawab terhadap sampah pasca konsumsi dari produk mereka. Hal ini sudah jelas tercantum pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah  Pasal 15 yang menyebutkan bahwa produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.

"Sampah menjadi masalah global di seluruh belahan dunia. Anak didik diajarkan untuk meminimalisir sampah, reuse, replace dan tindakan lainnya. Ini bisa menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada, tetapi apakah tindakan ini akan mengakhiri masalah global yang sedang kita hadapi? Ternyata sama sekali tidak,” ujar Elvi Mariati Pintubatu Penanggung Jawab Hainan School Denpasar. “Sebaiknya produsen atau pencipta produk yang dikonsumsi publik harus mengevaluasi disain kemasannya. Jika anak-anak kita ajarkan tentang tanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan maka orang dewasa tentunya harus menjadi teladan dalam hal itu”. 

 

Hainan School merupakan salah satu sekolah yang berpartisipasi dalam brand audit 2019 yang juga termasuk dalam sekolah Adiwiyata Kota Denpasar.

 

Audit merek ini juga merupakan salah satu rangkaian kegiatan Kampanye Edukasi Ban the Big 5 oleh Yayasan BaliFokus/Nexus3. Ban the Big 5 atau Larangan Lima Besar adalah kampanye yang diluncurkan oleh Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) untuk melarang atau mengurangi 5 (lima) produk plastik sekali pakai: (1) kantong plastik sekali pakai; (2) sedotan plastik sekali pakai; (3) wadah makanan styrofoam / polystyrene, (4) sachet, dan (5) microbeads dalam produk kebersihan. 

 

Sebagai salah satu anggota AZWI, Yayasan Nexus3/BaliFokus menginisiasi program kampanye edukasi Ban the Big 5 di sekolah-sekolah Provinsi Bali. Program kampanye edukasi ini dirancang untuk mendukung program pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan sekolah, guru dan murid serta mengubah perilaku dalam mengurangi lima produk plastik sekali pakai.

 

“Baru kali ini saya ikut dalam kegiatan seperti ini. Selama ini saya kira hanya masyarakat dan pemerintah. Tapi dengan adanya kegiatan brand audit, saya jadi tahu perusahaan-perusahaan juga harus berperan dalam mengatasi sampah plastik. Apalagi sekolah kami berada dalam daerah wisata dan dekat dengan garis pantai dimana sampah plastik bisa terbawa angin atau air karena ringan sehingga dapat mencemari lingkungan sekitar kami”, ujar Ni Putu Mika Diani Pratiwi  siswi SMP Negeri 3 yang saat ini duduk di Kelas 8A. 

 

Dengan melibatkan anak-anak SMP Negeri 3 Kuta Utara, mereka secara langsung mendapatkan pengalaman melakukan kegiatan audit merek.

 

Selain audit merek, Nexus3/BaliFokus juga mengidentifikasi jenis-jenis sampah plastik sekali pakai terbanyak yang dihasilkan oleh ketiga sekolah tersebut antara lain botol minum plastik, kemasan sachet, kemasan air minum dalam kemasan (AMDK). Plastik sekali pakai yang ditemukan ini adalah jenis plastik sulit untuk didaur ulang sehingga berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan karena dapat terpecah dan melepaskan mikroplastik ke lingkungan.

 

“Hasil brand audit sangat bagus untuk mengetahui perusahaan-perusahaan yang harus bertanggung jawab terhadap sampah di sekolah. Seharusnya setiap sekolah bisa melaksanakan brand audit. Sekolah mempunyai hak untuk menjadikan sekolahnya bebas sampah plastik dan bersih. Hal ini bisa dimulai misalnya dengan mengajak kantin sekolah untuk berpartisipasi dalam pengurangan plastik sekali pakai” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Bangli, Ida Ayu Yudi Sutha.

Masalah polusi plastik di sekolah tidak bisa ditangani hanya oleh pemerintah dan pihak sekolah sendiri. Plastik adalah masalah global dan memerlukan peranan semua pihak untuk mengatasinya. Kegiatan brand audit adalah salah satu cara untuk meminta pihak produsen supaya lebih bertanggung jawab terhadap produknya. 

 

 

SELESAI

 

 

Yayasan Nexus3 (sebelumnya dikenal sebagai Yayasan BaliFokus) bekerja untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan, dari dampak pembangunan terhadap kesehatan dan lingkungan, demi terciptanya masa depan yang adil, bebas racun dan berkelanjutan.  www.nexus3foundation.org

 

#BreakFreeFromPlastic yaitu gerakan global terdiri dari berbagai organisasi dan individu yang berjuang untuk menghentikan polusi plastik dan menekankan kekuatan aksi masyarakat untuk meminta korporasi bertanggung jawab atas krisis pencemaran plastik. Yayasan BaliFokus/Nexus3 sendiri merupakan salah satu member inti dari #BreakFreeFromPlastic sejak tahun 2016. www.breakfreefromplastic.org 

 

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah  9 organisasi yang terdiri dari YPBB, GIDKP, Nexus3/BaliFokus, PPLH Bali, ECOTON, ICEL, Nol Sampah, Greenpeace Indonesia dan Walhi. Kami mengkampanyekan implementasi konsep Zero Waste yang benar dalam rangka pengarusutamaan berbagai kegiatan, program, dan inisiatif Zero Waste yang sudah ada untuk diterapkan di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia dengan mempertimbangkan hirarki pengelolaan sampah, siklus hidup material, dan ekonomi sirkuler. www.aliansizerowaste.id

 

 

Selengkapnya: Laporan audit merek 2019 

 

Please reload