© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Please reload

Recent Posts

SIARAN PERS - Dioksin: Dari dua desa ke duabelas kota

November 28, 2019

1/1
Please reload

Featured Posts

SIARAN PERS: Aktivis Lingkungan Mengecam Kekacauan Perdagangan Sampah Indonesia Mendesak Diberlakukannya Pelarangan Ketat untuk Impor Limbah

November 5, 2019

Jakarta, Indonesia - 5 November 2019. Organisasi pengawas perdagangan limbah internasional Basel Action Network (BAN) bersama dengan organisasi lingkungan Indonesia Ecoton, WALHI, dan Nexus3 hari ini dalam menyebut situasi impor limbah di Indonesia dalam kondisi mengerikan dan "tidak terkendali" yang hanya dapat diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia yang lebih bertanggung jawab dalam menangani pengiriman sampah ilegal yang tiba di Indonesia, sambil memberlakukan larangan penuh terhadap impor di masa depan. 

 

Pekan lalu para aktivis mengungkapkan bahwa banyak pengiriman limbah ilegal dan terkontaminasi yang dijanjikan pemerintah untuk dikirim kembali ke Amerika Serikat malah diekspor lagi ke India, Vietnam, Thailand, Meksiko, Belanda, Kanada, dan Korea Selatan.


"Di bawah Konvensi Basel, Indonesia seharusnya mengambil kendali ketat atas ekspor ulang pengiriman limbah ilegal," kata Yuyun Ismawati Drwiega dari Nexus3. “Namun kenyataannya, tidak hanya pemerintah melanggar janji untuk mengembalikan mereka ke negara asal, tampaknya mereka gagal memberi tahu pemerintah negara penerima atau gagal memastikan bahwa peti kemas yang dikirim ke negara yang menjadi tujuan pengalihan akan dikelola dengan cara yang ramah lingkungan seperti yang disyaratkan oleh Konvensi Basel."


Menurut para aktivis lingkungan, Indonesia diharuskan untuk:

  • memberi tahu pemerintah negara  penerima tentang pengiriman peti kemas yang direekspor termasuk gambaran tentang limbah yang terkontaminasi di dalamnya.

  • bekerja dengan negara asal untuk meminta mereka mengambil kembali limbah untuk diolah dengan cara-cara yang berwawasan lingkungan, atau untuk memastikan pengelolaan tersebut di negara yang dialihkan.

  • menerima persetujuan dari negara pengimpor sebelum re-ekspor dilakukan.

  • memastikan, di negara pengimpor, bahwa fasilitas penerima diketahui dan dikenal sebagai fasilitas daur ulang atau pembuangan yang berwawasan lingkungan.

  • secara pidana menuntut siapa pun yang terlibat dalam perdagangan limbah ini jika gerakan mereka dan pengelolaan akhir, tidak sesuai dengan kewajiban Konvensi.

"Tanpa melibatkan negara asal dengan benar, atau mengambil langkah-langkah untuk menuntut para pelanggar Konvensi Basel, kriminalitas seperti ini akan terus berlanjut, dan lebih banyak peti kemas akan terus datang untuk mencemari Indonesia," kata Jim Puckett, Direktur BAN.

 
Invasi limbah ke Indonesia dimulai setelah Cina melarang impor hampir semua limbah dua tahun lalu. Solusi Cina untuk polusi kini menjadi mimpi buruk Indonesia. 


"Gunung-gunung sampah plastik, kertas, dan elektronik dari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia menumpuk dan sebagian besar dibakar di seluruh desa-desa kami," kata Daru Setyo Rini dari Ecoton. "Cina melarang barang-barang ini karena suatu alasan. Kita harus melakukan hal yang sama."


"Kami mendesak Presiden Jokowi untuk melakukan investigasi lengkap terhadap bisnis impor limbah, termasuk semua kementerian dan perusahaan yang terlibat," kata Nur Hidayati dari WALHI. "Kami menyerukan kepada Presiden untuk mencabut izin pencemar dan memberlakukan larangan total impor limbah.”

 

 

Para pemerhati lingkungan menyerukan Indonesia untuk:

  1. Bertindak dengan segera untuk memastikan bahwa limbah impor ilegal yang sudah dikirim ke Indonesia dikirim kembali ke negara asal sesuai dengan aturan Konvensi Basel.

  2. Mengadopsi pembatasan impor yang sama seperti Cina untuk memastikan Indonesia tidak dilihat sebagai tempat sampah global baru.

  3. Pengiriman yang dialihkan melanggar perintah pemerintah dan karenanya ilegal serta dapat dikatakan sebagai penipuan. Tindakan tersebut harus dibawa ke pengadilan dan dikomunikasikan kepada negara-negara yang menjadi korban - beberapa pengiriman ini akan melibatkan ilegalitas lebih lanjut di negara penerima.

  4. Pemerintah harus meminta surat pengiriman asli yang menyertai pengiriman nomor kontainer tersebut (Bill of Ladings). Dokumen ini dapat diperoleh dari jalur pelayaran yang terlibat maupun dari perusahaan yang melakukan re-ekspor.

  5. Baik dokumen notifikasi dan tagihan muatan ekspor ulang perlu diumumkan kepada publik untuk memastikan adanya transparansi penuh.

  6. Otoritas berkompeten di negara asal (Konvensi Basel atau yang setara) serta masyarakat umum (diunggah di situs web) perlu diinformasikan pada saat ekspor nomor peti kemas, kapal, dan rute, serta jadawal kedatangan (Estimated Time Arrival/ETA) pengembalian peti kemas.

  7. Komite pemantau independen harus segera dibentuk untuk memastikan impor/ekspor limbah dan re-ekspor mematuhi semua peraturan dan perintah pemerintah.

 

SELESAI

 

 

Untuk informasi lebih lanjut:
Jim Puckett, jpuckett@ban.org, +1 (206) 652-5555
Yuyun Ismawati, yuyun@balifokus.asia, +44 75 8376 8707

 

 

Tentang Nexus3 Foundation
Nexus for Health, Environment and Development Foundation (sebelumnya dikenal sebagai BaliFokus Foundation) bekerja untuk melindungi masyarakat, terutama populasi yang rentan, dari dampak pembangunan terhadap kesehatan dan lingkungan, untuk menuju masa depan yang adil, bebas racun, dan berkelanjutan. Informasi lebih jauh, lihat www.nexus3foundation.org 

 

Tentang Basel Action Network (BAN)
Didirikan pada tahun 1997, Basel Action Network adalah organisasi amal yang terdaftar 501 (c) 3 Amerika Serikat, yang berbasis di Seattle, WA. BAN adalah satu-satunya organisasi di dunia yang fokus pada keadilan lingkungan global dan inefisiensi ekonomi dari perdagangan beracun dan dampaknya yang menghancurkan. Hari ini, BAN berfungsi sebagai pusat informasi tentang masalah perdagangan limbah untuk wartawan, akademisi, dan masyarakat umum. Melalui investigasinya, BAN mengungkap tragedi pembuangan limbah elektronik berbahaya di negara-negara berkembang. Untuk informasi lebih lanjut, lihat www.BAN.org.

 

Tentang ECOTON
ECOTON bekerja merealisasikan kelestarian keanekaragaman hayati dan fungsi lingkungan bagi manusia, melalui ekosistem sungai yang adil dan partisipatif serta pengelolaan lahan basah. Informasi lebih jauh, lihat www.ecoton.or.id

Tentang WALHI
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merupakan sebuah organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia. WALHI secara aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di Indonesia. WALHI bekerja untuk terus mendorong terwujudnya pengakuan hak atas lingkungan hidup, dilindungi serta dipenuhinya hak asasi manusia sebagai bentuk tanggung jawab Negara atas pemenuhan sumber-sumber kehidupan rakyat. www.walhi.or.id 

 

 

Siaran Pers Resmi Pemerintah Indonesia 30 Okt 2019.

 

Dokumen Siaran Pers ini (Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia)