SIARAN PERS: Mainan anak mengandung plastik daur ulang dengan bahan kimia beracun dari limbah elektr


Untuk dirilis segera

Mainan anak mengandung plastik daur ulang

dengan bahan kimia beracun dari limbah elektronik

Untuk informasi lebih lanjut:

Sonia Buftheim; sonia@balifokus.asia; +6287782378890

Krishna Zaki; krishna@balifokus.asia; +6281230002825

Yuyun Ismawati; yuyun@balifokus.asia; +447583768707

Denpasar, Indonesia, 19 April 2017 - Sebuah survei global yang baru dirilis mengungkapkan bahwa plastik daur ulang yang mengandung bahan kimia tahan api yang ditemukan dalam limbah elektronik, mengontaminasi mainan terlaris di dunia bersama dengan produk untuk anak-anak yang lainnya. Ironisnya, kontaminan kimia yang dapat merusak sistem saraf dan mengurangi kapasitas intelektual ini ditemukan di Kubus Rubik - mainan puzzle yang dirancang untuk melatih ketajaman pikiran.

Studi ini dilakukan oleh IPEN (International POPs Elimination Network, jaringan masyarakat sipil global), Arnika (sebuah organisasi lingkungan di Republik Ceko) dan BaliFokus. Bahan kimia beracun, OctaBDE, DecaBDE, dan HBCD, biasanya digunakan dalam selubung plastik produk elektronik dan jika tidak dimusnahkan, produk tersebut akan terbawa dalam produk baru saat bahan tersebut didaur ulang.[1]

Di Indonesia, BaliFokus membeli 15 mainan sejenis rubik dan mengirimkannya ke Republik Ceko untuk dianalisis. Lima sampel dipilih untuk dianalisa di laboratorium. Survei produk dari 26 negara, termasuk dari Indonesia, menemukan bahwa hampir setengah dari semua produk (43%) mengandung HBCD (hexabromocyclododecane). Hasil analisis sampel dari Indonesia menunjukkan bahwa tiga sampel mainan anak mengandung HBCD dalam konsentrasi tinggi. Bahan kimia ini bersifat persisten, dikenal dapat membahayakan sistem reproduksi dan mengganggu sistem hormon, yang berdampak negatif pada kecerdasan, konsentrasi, kemampuan belajar dan ingatan.

"Bahan kimia beracun dalam limbah elektronik seharusnya tidak terdapat pada mainan anak-anak karena ada risiko bermigrasi kepada anak dan saat mainan dibuang atau menjadi limbah," kata Yuyun Ismawati dari BaliFokus. "Masalah ini perlu ditangani secara global dan nasional."

Hasil studi ini baru muncul beberapa hari sebelum Konferensi global perwakilan internasional dari Konvensi Stockholm akan menetapkan ambang batas dari limbah berbahaya dan beracun. Ambang batas dari limbah berbahaya dan beracun ini akan mewajibkan penghancuran atau destruksi di bawah perjanjian Konvensi Stockholm - dan tidak mengizinkan untuk didaur ulang.

Yang mengejutkan, beberapa kandungan bahan kimia beracun pada produk anak-anak dalam penelitian ini melebihi ambang batas limbah berbahaya yang diusulkan. Tiga dari kubus yang dibeli di Indonesia mengandung HBCD 140, 431, dan 541 ppm, dimana ambang batas aman yang diusulkan untuk HBCD adalah 100 ppm .

"Kita membutuhkan batasan nilai untuk limbah berbahaya," kata Jitka Strakova, dari Arnika. "Standar yang lemah berarti produk beracun dan proses daur ulang yang tidak bersih, yang sering terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah dan menyebarkan racun dari tempat daur ulang ke rumah dan tubuh kita."

Penerapan ambang batas bahaya dari bahan kimia tahan api yang mengandung brom juga penting karena keberadaannya mudah ditemukan dalam limbah elektronik. Di berbagai negara, standar Konvensi Stockholm akan menjadi satu-satunya alat regulasi global yang dapat digunakan untuk mencegah impor dan ekspor limbah yang terkontaminasi ini dari negara-negara dengan undang-undang dan peraturan yang lebih ketat ke negara-negara dengan regulasi atau kontrol yang lebih lemah.

- SELESAI -

Arnika merupakan organisasi non-pemerintah di Republik Ceko yang berusaha mempromosikan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan di lingkungan, mengurangi zat dan limbah beracun, dan melindungi keanekaragaman hayati. www.arnika.org, www.english.arnika.org, twitter: @Arnikaorg

BaliFokus adalah sebuah organisasi non-pemerintah di Indonesia yang bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, kualitas hidup dan mengadvokasi lingkungan yang bebas-racun bersama-sama dengan semua pemangku kepentingan secara berkelanjutan. www.balifokus.asia, twitter: @BaliFokus

IPEN merupakan jaringan dari organisasi non-pemerintah publik yang bekerja di lebih dari 100 negara, yang bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan bahan kimia beracun yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. BaliFokus dan Arnika merupakan anggota aktif dari jaringan ini. www.ipen.org twitter: @ToxicsFree

________________________________________

[1] OctaBDE = Octabromodiphenyl ether dan HBCD = hexabromocyclododecane (sudah dilarang secara global oleh Konvensi Stockholm), dan DecaBDE = Decabromodiphenyl ether (diusulkan untuk dilarang secara global di bawah Konvensi Stockholm).

Dokumen siaran pers ini dapat diunduh disini.

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA