Bahan dan Limbah Berbahaya dan Beracun di Indonesia: Dimensi Gender


BaliFokus, Indonesia, dan Women Engage for a Common Future (WECF), Belanda, menyelenggarakan pertemuan para pemangku kepentingan minggu ini di Kementerian Lingkungan Hidup dan kantor Kehutanan di Jakarta untuk membahas dimensi gender dari pengelolaan bahan dan limbah berbahaya dan beracun. BaliFokus dan WECF bekerja sama dalam kemitraan dengan Sekretariat PBB dari Konvensi-konvensi Basel, Rotterdam dan Stockholm (BRS) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia pada sebuah proyek berjudul dimensi gender dari bahan dan limbah Polutan Organik yang Persisten (POPs).

"Kita semua dalam keseharian bersentuhan dengan bahan kimia yang terkadang berbahaya, hadir dalam produk, makanan, udara air dan limbah. Tapi bahan kimia adalah topik yang sangat teknis, dan kebanyakan orang tidak menyadari ada dimensi sosial-ekonomi yang kuat,“ jelas Sascha Gabizon, Direktur Eksekutif WECF International. "Secara global, semua negara telah sepakat untuk melarang penggunaan bahan kimia terburuk. Di Indonesia, banyak perempuan, laki-laki dan anak-anak tidak sadar telah mempertaruhkan diri untuk menghadapi risiko kanker dan infertilitas dari paparan bahan kimia berbahaya yang dilarang. "

"Data dan informasi kontaminan bahan berbahaya dalam makanan, udara, dan biomarker manusia tidal tersedia. Bahkan lebih parah lagi, kita tidak memiliki informasi apa saja efeknya terhadap kesehatan,“ kata Yuyun Ismawati, Penasihat Senior BaliFokus. “Proses peleburan plastik dan limbah elektronik untuk didaur-ulang berpotensi menjadi sumber dioksin dan furan, yang dapat tersebar melalui udara, debu dan rantai makanan. Penduduk yang berisiko tinga adalah perempuan, laki-laki, dan anak-anak yang hidup di sebelah pabrik daur ulang plastik dan pengolahan limbah elektronik informal."

Saat ini ada empat konvensi bahan kimia di bawah PBB. Indonesia telah meratifikasi Basel, Rotterdam dan Stockholm Conventions, dan sedang mempersiapkan ratifikasi Konvensi Minamata tentang merkuri. Pada pertemuan para pemangku kepentingan tanggal 23 Februari 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mempresentasikan Rencana Implementasi Nasional untuk melaksanakan Konvensi Stockholm. Beberapa rencana utama adalah untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut, peningkatan kesadaran dan peningkatan kapasitas untuk memantau POPs tetapi memiliki keterbatasan sumber daya.

"Semua inisiatif ke arah itu membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan demi melindungi generasi masa depan Indonesia," tambah Yuyun Ismawati. “Contoh nyata misalnya petisi change.org dari seorang ibu yang menghimbau pelarangan lindane - sebuah POPs terlarang - tapi masih digunakan sebagai obat kutu-kepala.”

"Kita perlu kampanye kesadaran skala besar untuk meningkatkan kesadar-tahuan masyarakat umum terutama kelompok rentan yang paling beresiko terpapar POPs beracun, misalnya melalui jaringan ibu menyusui, petani perempuan dan serikat buruh," kata Rossana Dewi dari Yayasan Gita Pertiwi.

Perwakilan dari berbagai LSM Indonesia meminta pemerintah melakukan penegakan hukum yang lebih baik lagi berdasarkan undang-undang yang ada serta tindakan yang lebih nyata untuk menghentikan impor produk berbahaya dari luar negeri seperti asbes, limbah elektronik, dan limbah plastik. Perwakilan dari berbagai LSM di Indonesia juga menyatakan pentingnya pelaksanaan regulasi yang lebih baik seiring dengan langkah-langkah atau aksi untuk menghentikan impor dari produk yang berbahaya dari luar negeri, seperti asbestos, e-waste (sampah elektronik), dan sampah plastik. Mereka juga menyatakan kepada industri untuk mengaplikasikan Extended Producer Responsibility (EPR/Perluasan Tanggung Jawab Produsen), menyediakan produk di pasar yang dapat didaur ulang secara aman, dan mencabut produk seperti plastik PVC, plastik sekali pakai, merkuri, dan produk berbahaya lainnya.

Informasi kontak:

BaliFokus, Yuyun Ismawati, WA +447583768707, yuyun@balifokus.asia, www.balifokus.asia

BaliFokus, Sonia Buftheim, +6287782378890, sonia@balifokus.asia, www.balifokus.asia

WECF International, Sascha Gabizon, +31-30-2310300, wecf@wecf.eu, www.wecf.org

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA