SIARAN PERS: Lindungi Anak-anak Kita dari Paparan Timbal dalam Cat dan Debu Asbes


UNTUK DIRILIS SEGERA

Kontak: Sonia Buftheim

HP: +62 877-8237-8890

Email: sonia@balifokus.asia

Lindungi Anak-anak Kita dari Paparan Timbal dalam Cat dan Debu Asbes

Cat dengan kandungan timbal berbahaya banyak dijual di negara-negara berkembang

Jakarta, 24 Oktober 2016 - BaliFokus melakukan kampanye sinergi dan aksi untuk melindungi anak-anak dari paparan timbal dalam cat dan asbes di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Denpasar.

Kegiatan kampanye di Indonesia ini merupakan bagian dari rangkaian aksi di seluruh dunia dalam rangka Pekan Aksi Internasional Pencegahan Keracunan Timbal (International Lead Poisoning Prevention Week of Action (ILPPWA), 23-29 Oktober 2016, yang dipimpin oleh Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebuah laporan Global Lead Paint Report[1], yang dirilis minggu ini oleh IPEN, juga sebagai bagian dari ILPPWA, menemukan bahwa banyak cat dekoratif yang dijual di lebih dari 40 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menjadi bagian dari penelitian, masih banyak negara yang memproduksi cat dengan konsentrasi timbal yang cukup tinggi - terkadang melanggar peraturan nasional.

"Dampak kesehatan dari paparan timbal pada otak anak-anak balita membekas sepanjang hiduptak terpulihkan dan tidak dapat diobati," kata Yuyun Ismawati dari BaliFokus. “Dengan membiarkan tetap beredarnya cat-cat bertimbal tinggi, kita membatasi perkembangan intelektual anak-anak kita dan masa depan bangsa kita. Alternatif yang aman dan efektif sudah digunakan dan tersedia secara luas di Indonesia. Kita harus mengurangi sumber penting ini paparan timbal untuk anak-anak. "

“Penggunaan cat bertimbal merupakan sumber utama paparan timbal masa kanak-kanak," kata Dr Sara Brosché, Manajer Global IPEN untuk Kampanye Penghapusan Cat Bertimbal ini. "Anak-anak - terutama yang berusia di bawah 6 tahun - menelan atau menghirup timbal melalui paparan debu atau tanah yang terkontaminasi cat berbasis timbal dan melalui perilaku tangan-ke-mulut atau ketika mereka mengunyah mainan, perabot rumah tangga atau barang lainnya dicat dengan cat bertimbal. Pemerintah harus menetapkan peraturan wajib batas kandungan timbal dalam cat dan harus dipatuhi oleh industri, Namun demikian perusahaan cat tidak perlu menunggu peraturan; mereka dapat dan harus bertindak sekarang."

Dalam pernyataan yang disiapkan untuk ILPPWA tahun ini, Dr. Maria Neira Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat, Lingkungan dan Faktor Sosial Penentu Kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan: "Paparan timbal menimbulkan bahaya yang signifikan bagi kesehatan manusia, terutama untuk anak-anak. Tidak perlu menambah timbal ke dalam cat - bahan kimia alternatif yang lebih aman dapat digunakan. Cara terbaik bagi negara-negara untuk memastikan ketersediaan cat yang aman dari timbal adalah dengan menuangkan peraturan ke dalam undang-undang, peraturan atau standar wajib yang melarang pembuatan, impor, ekspor, penjualan atau penggunaan cat bertimbal."

BaliFokus telah melakukan 2 penelitian pada tahun 2013 dan 2015. Penelitian pertama[2] yang melibatkan 76 sampel dari 43 merek cat enamel dekoratif di pasar Indonesia, menunjukkan sekitar 77% dari cat yang diuji mengandung timbal lebih dari 90 ppm dengan rekor tertinggi 116.000 ppm. Studi kedua[3] yang melibatkan 121 sampel dari 63 merek, menunjukkan sekitar 83% dari sampel yang diuji mengandung timah di atas 90 ppm dan tertinggi 102.000 ppm.

Professor (emeritus) ahli Kimia Dr. Paul Connett, yang mempejari keracunan timbal pada 1970-an, dan sedang berada di Indonesia untuk serangkaian tur tentang Zero Waste di Indonesia mengatakan, "Sulit dipercaya bahwa cat bertimbal masih digunakan di Indonesia karena hal ini sudah dilarang di AS pada tahun 1978! Bahkan dalam konsentrasi yang sangat rendah pun paparan timbal telah terbukti mempengaruhi perkembangan mental anak. Menurut saya membiarkan penggunaan cat bertimbal ketika negara-negara lain telah menemukan alternatif yang lebih aman adalah tindakan kriminal. Indonesia tidak boleh meracuni anak-anak dengan cara ini."

Berbagai lembaga pemerintah telah menyambut advokasi masyarakat sipil untuk penghapusan timbal dalam cat. Sejak BaliFokus mulai meneliti timbal dalam cat dekoratif, standar baru cat berbasis pelarut SNI 8011: 2014 telah dirilis oleh Badan Standarisasi Nasional, metetapkan standar sukarela konsentrasi timbal dalam cat yang dijual di pasar Indonesia sebesar 600 ppm.

Tuti Mintarsih, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menyatakan bahwa, "Indonesia merupakan salah satu negara yang berupaya melindungi warganya dari polusi timbal baik terhadap mahluk hidup mapun lingkungan secara umum. Oleh karena itu berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk mencegah polusi timbal dan dampaknya bagi masyarakat serta melaksanakan berbagai tahapan kegiatan menuju dihapuskannya timbal pada tahun 2020."

Sebagian besar negara-negara industri mengadopsi undang-undang atau peraturan untuk mengontrol kandungan timbal dalam cat-cat dekoratif - yang digunakan untuk interior dan eksterior rumah, sekolah, dan fasilitas pendidikan anak usia dini - pada 1970-an dan 1980-an. Standar ketat kandungan timbal dalam cat dekoratif, 90 ppm, umum dijumpai di banyak negara, termasuk di Filipina, Nepal dan Amerika Serikat. Beberapa negara lain, termasuk Singapura dan Sri Lanka, memiliki standar kandungan timbal total 600 ppm.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut cat bertimbal sebagai “peringatan utama" potensi keracunan timbal pada anak-anak dan mengatakan bahwa "setelah bensin bertimbal dihapuskan, cat bertimbal merupakan salah satu sumber terbesar paparan timbal pada anak-anak. "Anak-anak terpapar timbal, ketika permukaan yang dicat melapuk lalu bercampur dalam debu rumah tangga dan tanah. Anak-anak, usia 0-6 tahun, memiliki perilaku normal tangan-ke-mulut yang beresiko tinggi terhadap dari paparan timbal dalam debu dan tanah, dapat megakibatkan gangguan kecerdasan dan perkembangan mental mereka.

Selain itu, paparan debu asbes juga banyak ditemukan di fasilitas-fasilitas untuk anak-anak. Meskipun berbagai departemen terkait di Indonesia telah mengeluarkan peraturan dan standar dan mengklasifikasikan asbes sebagai Bahan Berbahaya Beracun (B3), hingga saat ini asbes masih diizinkan untuk diproduksi dan digunakan untuk berbagai keperluan. Beberapa pusat pendidikan anak usia dini bahkan menggunakan asbes untuk atap ruang kelas.

Paparan debu asbes dapat diminimalkan dengan melapis permukaan asbes dengan cat bebas timbal berbasis air atau berbasis pelarut. Untuk itu, kampanye ini bertujuan untuk mendemonstrasikan aksi sinergi untuk melindungi kesehatan anak-anak dari paparan timbal dalam cat dan debu asbes. Dalam kampanye ini, BaliFokus bekerja sama dengan beberapa produsen cat untuk mengecat beberapa sekolah terpilih di 5 kota.

KONTAK

BALIFOKUS

Yuyun Ismawati

Senior advisor

WA +44 7583 768707, HP +62812 8829201

Email: yuyun@balifokus.asia

Skype: yuyun.ismawati

Sonia Buftheim

Toxics Program Officer

HP/WA: +62 877-8237-8890

Email: sonia@balifokus.asia

Skype: sonia_buftheim

BaliFokus adalah organisasi non-pemerintah yang bekerja dan mendukung peningkatan kualitas hidup dan kualitas lingkungan yang lebih baik bersama-sama dengan para pemangku kepentingan menuju masa depan bebas-racun. BaliFokus merupakan anggota aktif dari IPEN (International POPs Elimination Network). URL: www.balifokus.asia Twitter: @BaliFokus

IPEN

Sara Brosche

Global Lead Paint Elimination Project Manager

Ph. +46 704 035816

Email: sarabrosche@ipen.org

Skype: sara.ipen

Manny Calonzo

Global Lead Paint Elimination Project Advisor

Ph. +632-4411846

Email: manny@ipen.org

Skype: mannycalonzo

IPEN adalah jaringan LSM internasional terdiri dari 700 organisasi di 116 negara yang bekerja untuk mengurangi dan menghilangkan zat-zat berbahaya, beracun secara internasional dan di negara-negara para anggotanya. URL: www.ipen.org, Twitter: @ToxicsFree

Dokumen siaran pers ini dapat diunduh disini.

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA