Usaha Peningkatan Sarana Penyehatan dan Pengelolaan Lingkungan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sistem pengelolaan lingkungan dengan berbagai model dan metode dengan pendekatan berbasis masyarakat menjadi salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan lingkungan di daerah. Upaya ini secara tidak langsung bersinggungan dengan usaha peningkatan kesehatan masyarakat. Partisipasi masyarakat di daerah tertuju salah satunya adalah pelaksanaan program sanitasi lingkungan. Program SANIMAS (Sanitasi Berbasis Masyarakat) di daerah bagian Indonesia Timur yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wujud penerapan secara terpadu untuk membantu masyarakat dalam mengatasi masalah sanitasi dengan pengolahan limbah individu maupun kolektif.

Partisipasi aktif masyarakat dan Pemerintah Daerah merupakan kunci untuk membawa program ke arah tujuan bersama yaitu meningkatkan kondisi sanitasi di pemukiman penduduk. BALIFOKUS sebagai lembaga swadaya masyarakat juga bergerak bersama masyarakat dalam melakukan implementasi program SANIMAS di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Program SANIMAS di wilayah tersebut mulai terlaksana sejak tahun 2007. Sampai dengan tahun 2010 telah dibentuk sebanyak dua KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) sebagai manifestasi pendukung program, yaitu KSM Bersatu yang terletak di Kecamatan Fatuleu, Kupang dan KSM Flamboyan di Kecamatan Kupang Timur. Pembentukan KSM bertujuan untuk memberikan wadah bagi masyarakat agar secara mandiri dapat mengelola program di wilayah masing-masing dan dapat terlaksana secara berkelanjutan.

Pendampingan masyarakat secara formal untuk program dilaksanakan oleh BALIFOKUS. BALIFOKUS mendirikan kantor cabang yang beroperasi dari tahun 2008 sampai awal tahun 2011 di Kupang untuk memudahkan koordinasi dan pemantauan program yang berjalan di masyarakat. Program SANIMAS hadir di wilayah tersebut dengan melihat kondisi umum dan permasalahan di masing-masing pemukiman masyarakat. Baik di Kecamatan Fatuleu dan Kupang Timur memiliki karakterisitik yang kurang lebih sama, antara lain berada di wilayah perkampungan pasar yang pada umumnya belum memiliki jamban sendiri. Hampir 80% warga hanya memiliki kamar mandi tanpa dilengkapi fasilitas jamban/WC di rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan dasar sanitasi, mereka menggunakan MCK Umum yang sudah tidak layak lagi atau memanfaatkan sungai di sekitar tempat tinggal mereka. Pada umumnya air bersih masyarakat bersumber dari sumur bor dan PDAM. Sumber dana program ini berasal dari Pemerintah Kabupaten Kupang dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kupang serta kontribusi masyarakat calon pengguna.

Sedangkan untuk proyek biogas di Provinsi Nusa Tenggara Timur telah terlaksana di dua tempat yaitu pilot project di SD Inpres Oesapa dan Panti Asuhan Louis de Monfort. Kedua tempat ini menggunakan teknologi DEWATS (Decentralized Wastewater Treatment Systems) yang terdiri dari unit-unit instalasi seperti biodigester, bak sedimentasi, dan beberapa septiktank bersusun. Untuk proyek biogas di SD Inpres Oesapa, pendanaan berasal dari UNICEF dan dikelola oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Kupang. Peran BALIFOKUS dalam hal ini adalah pada perencanaan dan jasa supervisi untuk proyek ini. Sedangkan pembiayaan biogas di Panti Asuhan Louis de Monfort oleh Kedutaan Besar Jerman dan pengelolaan dilaksanakan oleh BALIFOKUS.

Gambar: Sarana biogas di SD Inpres Oesapa pada saat peresmian oleh Walikota Kupang pada tanggal 19 November 2010 yang masuk dalam Program Pembangunan/Renovasi Jamban Sekolah

Tujuan dari keberadaan proyek biogas adalah meningkatkan kondisi sanitasi di lingkungan, meningkatkan pengetahuan tentang isu-isu sanitasi dan teknologi sederhana DEWATS, pemanfaatan gas untuk penghematan biaya bahan bakar untuk memasak, dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal.

Seperti juga halnya dengan tujuan program SANIMAS yang telah melayani kebutuhan sanitasi penduduk adalah untuk menurunkan prevalensi penyakit akibat masalah sanitasi dan masyarakat dapat menghemat biaya pengeluaran untuk kesehatan. Secara lebih jauh, program ini juga telah menghasilkan ahli-ahli sanitasi dan fasilitator untuk pembangunan sarana SANIMAS di setiap wilayah.

Adanya sarana sanitasi lingkungan di wilayah-wilayah tersebut bukan berarti tidak memiliki beberapa permasalahan yang mengikutinya. Sebagai contoh, kesadaran masyarakat mengenai persoalan pemeliharaan sarana yang terkadang masih mengalami kendala. Masyarakat masih secara sembarangan membuang benda padat selain limbah cair yang tak seharusnya layak masuk ke IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) seperti misalnya, kemasan plastik detergen, sabun mandi, dan semacamnya. Tentunya hal tersebut patut menjadi perhatian masyarakat karena pengelolaan sarana secara mandiri berasal dari mereka sendiri yang sebenarnya sudah berkomitmen untuk memperbaiki kebutuhan sanitasi lingkungan. Tak lepas juga peran pemerintah dan pendamping program untuk terus secara intens menyampaikan pentingnya kesadaran individu dan kolektif untuk senantiasa menjaga fasilitas atau sarana ataupun lingkungan mereka secara umum.

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA