© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Please reload

Recent Posts

PBB Memutuskan untuk Mengontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

May 10, 2019

1/1
Please reload

Featured Posts

Perjanjian Baru tentang Merkuri Ditandatangani Minggu ini; Dapatkah mencegah terulangnya Tragedi Minamata di tempat lain?

October 9, 2013

Yuyun Ismawati
Senior Advisor, BaliFokus
IPEN lead for ASGM/Mining

 

Kumamoto, 8 October 2013 – Minggu ini, tgl. 10 Oktober 2013, sejarah baru dunia akan mencatat tonggak baru dengan ditandatanganinya perjanjian baru tentang merkuri oleh 140 negara di Kumamoto. Perjanjian ini akan dinamakan Konvensi Minamata tentang Merkuri atau the Minamata Convention on Mercury. Perjanjian ini akan menjadi perjanjian baru yang disepakati masyarakat dunia setelah lebih dari 10 tahun tidak ada perjanjian lingkungan baru.

 

Perjanjian ini juga akan melengkapi sinergi dari tiga konvensi terkait pengelolaan kimiawi lainnya yakni Konvensi Basel, Konvensi Rotterdam dan Konvensi Stockholm, yang sejak tahun 2010 mulai disinergikan untuk memudahkan koordinasi dan implementasi. Beberapa dari kesepakatan dalam konvensi-konvensi ini bersilang dan cross-cutting satu dan lainnya. Perjanjian merkuri akan mempertajam sinergi ini dengan memfokuskan intervensi pada logam berbahaya merkuri.

 

Dalam perjanjian merkuri ini, akan diatur perdagangan dan peredaran merkuri, pembatasan dan penghapusan penggunaan merkuri dalam produk dan proses industri, pengelolaan merkuri di tambang emas skala kecil (artisanal and small-scale gold mining/ASGM), pengendalian emisi dan lepasan merkuri ke udara, air dan tanah, pengelolaan limbah yang mengandung merkuri dan penyimpanan stok merkuri, pembersihan lahan tercermar merkuri, serta Rencana Implementasi Nasional dan kegaitan lain yang mendukung implementasi merkuri.

 

Tragedi Minamata
Tragedi Minamata yang terjadi 50 tahun yang lalu akibat polusi dari industri kimia yang dikelola Chisso corporation yang menggunakan merkuri sebagai katalis dalam proses produksi acetaldehyde, vinyl chloride, acetylene, asam asetat, dll. Pabrik Chisso di Minamata maju pesat sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

 

Limbah yang dihasilkan dari kegiatan produksi dibuang ke saluran sungai yang mengali ke Teluk Minamata. Hal ini menimbulkan masalah besar dan dikenal sebagai salah satu industrial pollution event terparah dalam sejarah. Sektor perikanan sangat terpukul akibat kejadian ini karena ikan dari Minamata tidak hanya dikonsumsi di lokal saja tapi juga dijual ke wilayah lain.

Chisso merespon komplain dari para nelayan dengan memberikan kompensasi melalui koperasi nelayan pada periode 1926-1943. Pabrik Chisso Minamata memproduksi acetaldehyde tahun 1932 dan memproduksi sekitar 210 ton. Pada tahun 1951 produksi meningkat menjadi 6,000 ton per tahun dan pada tahun 1960 mencapai puncaknya, sekitar 45,245 ton. Air limbah yang mengandung merkuri dibuang ke Teluk Minamata sejak tahun 1932 sampai tahun 1968, meski pada tahun 1960an produksi dengan katalis merkuri sudah dihentikan. (lihat foto terlampir).

 

Minamata disease
Minamata Disease (MD) pertamakali ditemukan di Minamata, Kumamoto Perfecture, pada 21 April 1956, di rumah salah satu warga yang berlokasi di bantaran sungai. Warga tersebut biasa memancing ikan dari jendela rumahnya untuk dikonsumsi sendiri. Setelah beberapa minggu, salah satu anggota keluarga rumah tersebut, mengalami sakit kejang parah dan meninggal. Bahkan kucing dan burungpun tiba-tiba jalan terseok-seok dan jatuh lalu mati. Selanjutnya, karena warga memakan ikan hasil tangkapan nelayan setempat dan mengkonsumsinya tiap hari, maka dalam waktu singkat banyak korban berjatuhan.

 

Pada awal tragedi, beberapa pasien dipandang mengalami gangguan ingatan dan kelainan mental sehingga pemerintah mendirikan Rumah Sakit Mental. Tapi makin lama makin banyak korban berjatuhan dan parah. Beberapa peneliti dari Kumamoto University mencoba merunut jalur pencemaran dan mendapati sumber pencemaran adalah ikan yang dikonsumsi dan ditangkap di perairan Teluk Minamata yang tercemar limbah dari Chisso corporation.

 

Pada bulan November 1956, para peneliti Kumamoto University merilis temuan awalnya sebagai: “Minamata disease is rather considered to be poisoning by a heavy metals.. presumably it enters the human body mainly through fish and shellfish”. Hal ini kemudian dikenal sebagai methylmercury poisoning.

 

Minamata disease adalah sindrom penyakit yang disebabkan keracunan merkuri pada tingkat yang ekstrim dan parah. Gejala-gejalanya antara lain ataxia (degenerasi syaraf), hilang rasa (numbness) di tangan dan kaki, jaringan otot melemah, cakupan pandangan terbatas, dan kerusakan pendengaran dan kemampuan bicara.

 

Dalam kasus ekstrim, gangguan emosi dan kejowaan, kelumpuhan, dan kematian lazim terjadi setelah beberapa minggu mengalami gejala-gejala keracunan merkuri di atas. Pada kasus congenital disease, ibu mentransfer racun kepada bayi dalam kandungan melalui placenta dan tali pusar sehingga bayi lahir cacat permanen. Hal ini meruntuhkan teori-terori sebelumnya yang menyatakan bahwa placenta melindungi jabang bayi dari bahaya dan ancaman dunia luar. Kasus Minamata congenital disease mengungkapkan bahwa Ibu dapat mentransfer racun yang ada dalam tubuhnya kepada si jabang bayi tanpa dirinya mengalami gejala yang parah.

 

Pada awalnya diperkirakan Minamata disease victims hanya sekitar 25,000 orang tapi pada akhir 2012, sekitar 65,000 victims mencatatkan diri dan menyatakan diri atau anggota keluarganya sebagai Minamata disease sufferers/victims. Para korban ini juga mengorganisir diri melalui berbagai wadah dan tetap berjuang lewat jalur pengadilan untuk mendapat pengakuan dan kompensasi. Hanya sekitar 2300 pasien yang disertifikasi dan sekitar 10,000 orang mendapat kompensasi parsial dari Chisso.

Sampai hari ini proses pengadilan masih berlanjut. Beberapa hari yang lalu, para korban dan support group mendengar hearing di pengadilan Kumamoto, tentang analisa dokter yang dikontrak pihak pemerintah Jepang untuk menganalisa kelayakan dan kebenaran status pasien. Awal tahun ini malah ada dokter yang mengaku bahwa mereka ditekan pemerintah Jepang untuk berbohong mengenai status dan kondisi para korban.

 

Penanganan pencemaran
T
ahun 1977 Chisso mulai menangani sedimen di Teluk Minamata yang diduga tercemar merkuri. Pelaksanaan penanganan pencemaran yang dilakukan Chisso meliputi pengerukan sedimen Teluk Minamata sekitar 1.5 juta m3, penimbunan sedimen di lahan reklamasi seluas 58 Ha selama 14 tahun dan menghabiskan dana sekitar USD 350 juta, plus pengerukan sedimen di mulut Hyakken drainage outlet menuju muara Teluk Minamata dan menjadikan lahan urugan sebagai Bamboo Park pada tahun 1990. Sentuhan akhir di area reklamasi yang saat dikeruk mengandung merkuri sekitar 25-30 ppm itu, dijadikan Eco Park oleh Pemerintah Perfecture Kumamoto dan Kota Minamata sebagai lokasi pembelajaran bagi anak-anak dan masyarakat dunia tentang pentingnya mencegah kerusakan lingkungan. Ironisnya, Eco Park ini juga berfungsi sebagai model pembelajaran kota yang berwawasan lingkungan dari Tragedi Minamata.

 

Perjanjian merkuri dan tambang emas skala kecil
Dalam laporan yang dirilis UNEP Januari 2013, Global Mercury Assessment 2013, tambang emas skala kecil (ASGM) diidentifikasi sebagai sumber emisi merkuri terbesar dari penggunaan merkuri dengan sengaja (intentional use of mercury) di tambang emas, sekitar 37% dari total emisi merkuri global. Sekitar 700an ton merkuri dilepas ke udara dan sekitar 150-300 ton merkuri dilepas ke air dan tanah. Di Indonesia, dari hasil studi inventory lepasan merkuri tahun 2012, mengidentifikasi lepasan merkuri ke lingkungan sekitar 339,250 kh Hg/tahun dan sekitar 59,37% dilepas ke udara, 15,5% dilepas ke air dan 14% dilepas ke tanah/sedimen. Sekitar 57.5% emisi ini berasal dari sektor PESK/ASGM dengan total emisi sekitar 195 ton/tahun. Angka emisi dari ASGM di Indonesia ini mewakili hampir 20% dari total emisi AGSM global.

 

Secara global, ASGM dipraktekkan di 80 negara, sebagian ilegal dan informal. Di Indonesia, sekitar 850 hotspots ASGM atau pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dapat ditemui di 22 propinsi. Sebagian besar muncul sebagai reaksi demam emas saat harga emas dunia naik. Para petambang dan pekerja emas biasanya berasal dari daerah hotspots ‘tua’ seperti Minahasa, Gorontalo, Talawaan atau dari Hampalit, Kalimantan Tengah, dari Tasik, dll. Mereka sebagian besar didukung oleh cukong-cukong, bos-bos juragan emas yang sekaligus juga merupakan pemasok merkuri dan dilindungi oleh aparat.

 

Masalahnya di dalam teks akhir dalam Perjanjian Merkuri, tidak ada target global untuk mengurangi emisi dari sektor ini. Negara-negara disarankan untuk menetapkan sendiri target pengurangan merkuri di sektor ASGM. Ironisnya, di dalam Artikel 2 Perjanjian Merkuri ini, merkuri masuk dalam kategori “use allowed” untuk sektor ASGM. Artinya merkuri diperbolehkan digunakan di sektor tambang emas skala kecil tetapi pada saat yang sama harus dihapuskan. Beberapa negara sudah melarang penggunaan merkuri di tambang emas dan harus menyesuaikan peraturan mereka.

 

Beberapa isu kritis dalam Perjanjian merkuri ini juga bersifat sukarela/voluntary, seperti untuk Artikel 7 tentang ASGM, Artikel 8, Artikel 9 dan Artikel 12 tentang Contaminated Sites. Negara-negara peserta konvnsi hanya disarankan dan mengusahakan pengurangan semampunya. Hal ini bertentangan dengan pembelajaran dari Minamata yang berasal dari lepasan merkuri ke air dan ke udara, serta lambannya pengelolaan situs pencemaran yang mengakibatkan makin banyaknya korban Minamata disease, sampai pada generasi kedua.

 

Dalam draft resolusi juga masih diperdebatkan, darimana sumber pendanaan untuk implementasi konvensi ini akan didapat. Saat ini hanya GEF (Global Environmental Facility) yang mendanai kegiatan-kegiatan yang disepakati dalam beberapa MEAs (Multi-lateral Environmental Agreements) seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati, Konvensi Iklim, Konvensi Basel, Rotterdam dan Stockholm. Conference of the parties akan menetapkan bentuk kelembagaan keuangan untuk mendukung konvensi baru ini.

Saat ini porsi pembiayaan Chemicals dalam GEF hanya sekitar 13%, sebagian besar dana GEF dialokasikan untuk implementasi Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Iklim. Dengan adanya sinergi ketiga konvensi (Basel, Rotterdam dan Stockholm) serta perjanjian merkuri, pertemuan komite GEF membicarakan kemungkinan memperbesar porsi pendanaan untuk program Chemicals dalam siklus berikutnya.

 

Pembelajaran dari tragedi Minamata
Dari tragedi Minamata, beberapa pembelajaran yang dapat dipetik antara lain:

 

1. Bertindaklah sekarang juga, jangan tunggu sampai masalah menjadi akut.
Bahkan setelah diketahui bahwa merkuri adalah penyebab tragedi, Chisso terus membuang limbah selama 10 tahun ke Teluk Minamata dan pemerintah setempat tidak berusaha memberi peringatan kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi ikan yang tercemar.

 

Sepuluh tahun terakhir, beberapa studi menunjukkan konsentrasi merkuri yang cukup tinggi di lingkungan tambang emas skala kecil di hampir 80 negara. Konsentrasi merkuri yang tinggi ditemukan pada rambut, darah, urin, air susu ibu dan ikan dan padi. Kita tidak perlu menunggu 20 tahun untuk mengkonfirmasi dan meyakinkan bahwa Minamata disease ada di sekitar kita.

 

2. Pahami dan pantau kimiawi yang digunakan di semua tempat dan akses terhadap informasi harus dapat diakses publik.
Bahkan setelah para peneliti dari Kumamoto University mengidentifikasi sumber pencemaran yang mengakibatkan masyarakat Minamata sakit dan menderita adalah dari limbah industri, Chisso tetap membuang limbahnya ke kanal, dan tidak ada orang di luar pabrik yang tahu kimiawi apa yang digunakan di pabrik saat itu. Perusahaan juga menolak untuk menjelaskan kimiawi apa saja yang mereka gunakan dalam proses industri. Pada akhirnya mereka mengakui menggunakan merkuri sebagai katalis dalam produksi acetaldehyde.

 

Di negara-2 dengan ASGM/PESK, seperti Indonesia, tidak ada perusahaan besar seperti Chisso yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Yang ada hanya para petambang, kongsi-kongsi dan operator yang rata-rata masyarakat biasa atau penduduk migran dari pulau lain. Bos-bos dan cukong-cukong emas bebas lenggang kangkung setelah mendapat emas dari para petambang di pelosok yang tercemar merkuri.

 

Satu-satunya cara untuk mengendalikan sumber pencemaran di lokasi-lokasi tambang emas skala kecil adalah dengan menghentikan pasokan merkuri secara progresif. Dengan demikian harga merkuri akan meningkat dan para petambang akan termotivasi untuk pindah menggunakan teknik ekstraksi emas dengan cara lain seperti sianida, boraks, konsentrat, dll. Pemerintah harus mengembangkan akses terhadap informasi yang lebih baik terutama untuk mengatur impor merkuri dan bagaimana cara merkuri diperdagangkan secara terbatas dan melarang penggunaannya di tambang emas skala kecil.

 

3. Jangan tunggu sampai 20 tahun untuk membersihkan lahan tercemar (contaminated sites). Makin lama ditangani, makin mahal biaya yang harus dikeluarkan, termasuk biaya kesehatan, kehilangan peluang pendapatan karena sakit, menurunnya perekonomian, kerusakan lingkungan, dll.

 

Biaya yang dikeluarkan Chisso untuk pembersihan Teluk Minamata cukup besar, sekitar USD 350 juta selama 14 tahun tetapi penderitaan yang diakibatkan oleh pencemaran ini adalah kenyataan sehar-hari yang dijalani para korban Minamata Disease. Mereka tidak pernah bisa lari dari kenyataan dan kondisi mereka makin buruk dari hari-ke-hari. Hanya kurang dari 4% dari para korban yang mendapat sertifikasi dan kompensasi yang layak dan memadai. Sampai minggu lalu, proses gugatan yang diajukan para korban di pengadilan setempat masih berlangsung.

 

Pemerintah di negara-negara yang memiliki tambang emas skala kecil, termasuk Indonesia yang merupakan salah satu negara ASGM terbesar dalam hal penggunaan merkuri dan sebaran hotspots, harus mencegah terjadinya pencemaran dan tragedi seperti di Minamata lebih dari 50 tahun yang lalu. Jika dibiarkan, warisan pencemaran dari gold rush di abad 21 ini, akan berupa ratusan atau bahkan ribuan lahan tercemar merkuri tingkat tinggi dan masyarakat yang menderita keracunan merkuri bukan hanya di satu negara, tetapi di hampir 80 negara. Eco Park yang dicontohkan di Minamata bukan jawaban karena tidak sesuai dengan standar pengelolaan limbah berbahaya beracun (harusnya berupa landfill kelas 1) dan biayanya mahal sekali.

 

4. Keracunan merkuri dapat dicegah.
Tidak perlu ada yang mati dan menderita karena merkuri. Jika kita dapat memantau konsentrasi merkuri terutama pada masyarakat dan para pekerja di tambang emas skala kecil, kita dapat bertindak sebelum terjadi tragedi.

Soal nama: membawa berkah atau petaka?

 

Pemerintah Jepang mengusulkan nama konvensi sebagai Minamata Convention on Mercury ini pada pertemuan negosiasi kedua INC2 di Chiba. Sayangnya, usulan ini diajukan tidak dikonsultasikan sebelumnya dengan para korban Minamata yang masih menuntut keadilan dan proses pengadilan. Para korban kecewa karena tuntutan mereka, 80.000 orang, untuk mendapat kompensasi, ganti rugi serta pelayanan kesehatan dari pemerintah dan Chisso belum ditanggapi, meski tragedi ini sudah berlangsung lebih dari 50 tahun.

 

Chisso corporation mengaku bangkrut sehingga semua tanggungjawab diambil alih oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 2004, pengadilan memutuskan bahwa Chisso dan pemerintah Jepang bersalah atas terjadinya tragedi Minamata dan diharuskan memenuhi semua kewajiban serta tuntutan para korban.

 

Menamakan konvensi ini dengan nama Minamata Convention seharusnya merefleksikan contoh baik (best practices) yang dilakukan suatu negara atau kelompok. Kalau pembelajaran yang dibagi dari Minamata adalah Eco Park sebagai lokasi penimbunan sedimen atau lumpur yang terkontaminasi merkuri, yang dibangun selama 14 tahun senilai 350 juta dollar, kemungkinan besar tidak akan ada negara yang mau membersihkan lahan terkontaminasi di negaranya.

 

Di dalam Technical Guidance yang dikeluarkan oleh Sekretariat Konvensi Basel tentang penanganan merkuri elemental dan atau limbah yang mengandung merkuri, limbah seharusnya diproses terlebih dahulu agar tingkat pencemarannya turun atau berkurang, lalu dibuang ke landfill kelas 1 bukan di taman reklamasi yang terbuka untuk rekreasi umum.

 

Kalau pembelajaran dari Minamata adalah membiarkan warganya menderita cacat seumur hidup sampai akhir hidup mereka, maka yang harus dilakukan adalah memantau tingkat pencemaran di rantai makanan dan di lingkungan. Kalau konsentrasi merkuri di suatu wilayah rata-rata sudah melampaui angka ‘aman’, pemerintah setempat harus segera mengambil tindakan. Menurut Dr. Tsuda dari Okayama University yang lama meneliti kasus Minamata Disease, penyakit ini dapat dicegah (preventable).

 

Dinas-dinas kesehatan dan para penyuluh kesehatan dapat menjadi juru pantau di lapangan. Tentunya harus diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat daerah, propinsi maupun nasional. Para pekerja kesehatan di daerah harus dapat segera mengenali gejala keracunan merkuri, mulai dari tingkat awal sampai tingkat parah agar dapat segera memberikan penanganan sebelum terlambat. Saat ini di beberapa lokasi hotspots di Indonesia, sudah banyak ditemui kasus-kasus dengan gejala Minamata disease. Kementrian Kesehatan dan KLH harus bekerjasama dan menyampaikan kepada publik hasil surveynya. Jangan sampai ada Minamata baru di Indonesia.

 

Nama bisa membawa berkah tapi juga bisa membawa sial atau petaka. Tapi saya percaya, kalau kita semua punya niat baik, secara pribadi maupun politis, maka tidak ada nama yang membawa sial. Hanya perlu kesungguhan dan niat baik untuk menjamin hak semua warga untuk hidup sehat.

 

—Selesai—

 

Email: yuyun@balifokus.asia
Skype yuyun.ismawati
Twitter: ismawati64