© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Please reload

Recent Posts

PBB Memutuskan untuk Mengontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

May 10, 2019

1/1
Please reload

Featured Posts

Tak Ada Batas Aman: Sudahkah Cat di Rumah Anda Bebas Pb?

March 17, 2013

Oleh: Andita Primanti (BaliFokus)

 

Timbel, kerap disebut juga timah hitam, merupakan unsur logam berat yang bersimbol Pb, dari bahasa Latin plumbum. Dalam bentuk murni, logam ini berwarna abu-abu kebiruan, lunak dan mudah dibentuk, sehingga sering dikombinasikan sebagai logam campuran dengan logam lain. Timbel juga kerap digunakan dalam bentuk senyawa, misalnya sebagai oksida, garam atau senyawa organik. Dalam semua bentuknya, timbel bersifat beracun (toxic) dan sulit terurai di lingkungan (persistent).

 

Salah satu penggunaan yang terbesar dan paling membahayakan adalah dalam senyawa tetraethyl lead (TEL) untuk meningkatkan performa bahan bakar kendaraan bermotor. Hingga Januari 2012, bahan bakar timbal sudah dinyatakan dihapuskan, kecuali di 6 negara: Afghanistan, Myanmar, Korea Utara, Aljazair, Irak dan Yaman[1]. Di Indonesia, Pertamina sudah sejak Juli 2006 menyatakan tidak menggunakan TEL dalam produksi BBM[2]. Penggunaan lain timbel secara luas antara lain pada cat, baterai yg mengandung timbel, pipa, amunisi, stabilizer untuk plastik PVC, dan lain-laun. Dengan relatif suksesnya upaya global penghapusan bensin bertimbel, cat bertimbel menggantikan bensin sebagai sumber paparan timbel terhadap anak yang paling umum di dunia.

 

Timbel dalam cat dapat digunakan sebagai zat warna (khususnya warna kuning, merah dan hijau terang), agen pengering cat minyak, zat antikarat, atau dalam jumlah kecil secara tidak sengaja. Timbel yang tidak sengaja masuk biasanya tidak melebihi konsentrasi 45 ppm (parts per million). Jika ditemukan kadar timbel dalam cat melebihi 90 ppm, ini adalah indikasi adanya penambahan secara sengaja, atau adanya pencemaran di tempat pengambilan bahan baku.

 

Dampak paparan timbel bagi kesehatan

 

Keracunan timbel kadang disebut juga plumbism atau painter’s colic. Bila terpapar dalam dosis tinggi, manusia dapat menderita gejala akut, antara lain muntah, jalan sempoyongan, kelemahan otot, kejang, sampai koma. Gejala lain meliputi sakit perut, perilaku agresif, anemia, konstipasi, sulit tidur, sakit kepala, kurang nafsu makan, dan (pada anak) kehilangan kemampuan yang sudah dipelajari dalam masa pertumbuhan. Dalam jangka panjang, dapat muncul efek kesehatan yang tidak dapat disembuhkan meliputi hipotensi, gangguan sistem saraf pusat, anemia, dan berkurangnya pendengaran. Bahaya tersembunyi datang dari paparan dosis kecil secara terus-menerus, yaitu gejala-gejala yang baru muncul setelah terakumulasi. Pada anak dan janin, timbel bisa menghambat perkembangan mental, walaupun dari luar tidak terlihat gejala. [3,4]

 

Gejala klinis pada anak mulai terlihat bila kadar timbel dalam darah (blood lead level) mencapai 60 µg/dl (mikrogram per desiliter). Praktisi kesehatan sampai tahun 80an percaya bahwa kadar di bawah ini tidak menimbulkan masalah. Tapi pada 1979, dokter anak dan psikiater Herbert Needleman menemukan korelasi antara kadar timbal sub-klinis dalam tubuh anak dengan IQ rendah dan perilaku buruk dalam kelas. Hasil penelitian ini kemudian dikonfirmasi oleh US Environmental Protection Agency. Peneliti lain menemukan kesimpulan serupa, termasuk korelasi dengan perilaku sulit memperhatikan, mudah marah, kenakalan dan tindak kriminal.[5]

 

Pada akhir 1990an, WHO dan komunitas medis internasional sepakat bahwa kadar timbel 10 µg/dl pada darah anak adalah batas di mana intervensi medis perlu dilaukan. Oleh sebagian ahli kesehatan masyarakat, nilai ini masih dianggap terlalu tinggi, yang kemudian ditunjukkan dalam studi Bruce Lanphear (2002) bahwa terdapat korelasi penurunan skor matematika dan membaca dengan kadar timbel dalam darah serendah 2.5 µg/dl. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu bahwa sebetulnya tidak ada batas aman.[5]

 

Pada 2010, FAO dan WHO menarik kembali standar referensi dosis toleransi timbel, dan menyatakan bahwa tidak mungkin menetapkan dosis toleransi yang dapat melindungi kesehatan.[6]

 

Bagaimana dengan Indonesia?

 

Pada tahun 2009, Profesor Scott Clark dari University of Cincinnati meneliti sampel cat dari beberapa negara, termasuk 11 sampel cat dari 4 produsen di Indonesia. Ditemukan bahwa 8 dari 11 memiliki kadar timbel di atas 600ppm, sementar 9 dari 11 di atas 90ppm.[7] Studi multinegara ini mencetuskan bahaya timbel sebagai permasalahan global yang perlu diatasi.

 

Berangkat dari pengetahuan-pengetahuan tersebut, IPEN Asia Lead Paint Elimination Project mulai dilancarkan sejak 2012, dengan jejaring International POPs Elimination Network (IPEN) di ujung tombak bersama mitra-mitra dari 7 negara, yaitu: Indonesia (Yayasan Balifokus), Bangladesh (ESDO), India (Toxics Link), Nepal (CEPHED), Filipina (Eco-Waste Coalition), Sri Lanka (CEJ) dan Thailand (EARTH). IPEN adalah suatu organisasi internasional yang mempromosikan kebijakan dan praktik-praktik penggunaan bahan kimia secara aman dan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Dalam proyek yang tergabung dalam program SWITCH Asia yang disponsori oleh Uni Eropa ini, setiap mitra IPEN melakukan kampanye publik dan advokasi pada pemangku kepentingan untuk menghapuskan produksi dan penggunan cat dekoratif yang menggunakan timbel. Pengujian kadar timbel pada cat yang dijual di tiap negara pun tengah dilaksanakan. Di Indonesia, pengujian ini akan memperluas lingkup dari penelitian Prof Clark dan meliputi 78 sampel cat dekoratif enamel yang dapat dibeli di pasaran, dan hasilnya akan segera diumumkan dalam beberapa bulan ke depan.

 

Banyak negara maju dan berkembang telah melarang produksi dan penggunaan cat dengan kadar timbel di atas 90 ppm. Di Indonesia, pembatasan timbel pada mainan anak, termasuk yang berasal dari cat, telah direncanakan melalui standar SNI[8] yang direncanakan berlaku wajib pada tahun 2013[9]. Begitu pun dengan produk cat secara umum yang belum dilarang menggunakan timbel. Di pasaran, sebagian produk yang tersedia telah mencantumkan keterangan seperti “no added lead“, “lead-free“, atau “does not contain lead” yang dapat menjadi petunjuk bagi konsumen yang ingin menghindari bahaya timbal. Ketiadaaan regulasi dan mekanisme pemeriksaan menyebabkan klaim-klaim produsen belum dapat dipegang 100%, tetapi sementara dapat menjadi pedoman hingga terwujud suatu mekanisme yang dapat melindungi masyarakat Indonesia, terutama anak-anak, dari paparan timbel dalam cat.

 

 

Referensi:

  1. UNEP Partnership for Clean Fuels and Vehicles. http://www.unep.org/transport/pcfv/PDF/Maps_Matrices/world/lead/MapWorldLead_January2012.pdf

  2. Indonesia Tak Gunakan Timbal Lagi Dalam BBM. http://www.antaranews.com/view/?i=1179713090

  3. Lead poisoning. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002473.htm

  4. Occupational Lead Poisoning. http://www.aafp.org/afp/1998/0215/p719.html

  5. Lead Poisoning, by Herbert Needleman, Annual Review of Medicine 2004. http://www.rachel.org/files/document/Lead_Poisoning.pdf 

  6. Exposure to Lead: A Major Public Concern. http://www.who.int/ipcs/features/lead..pdf

  7. Lead levels in new enamel household paints from Asia, Africa and South America. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19656507

  8. SNI ISO 8124-3:2010 tentang Keamanan Mainan, bagian 3.

  9. PERLINDUNGAN KONSUMEN: Kemenperin Susun 64 Rancangan SNI. http://berita.plasa.msn.com/nasional/bisnisindonesia/perlindungan-konsumen-kemenperin-susun-64-rancangan-sni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please reload