© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Please reload

Recent Posts

PBB Memutuskan untuk Mengontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

May 10, 2019

1/1
Please reload

Featured Posts

Legally Binding Instrument on Mercury

May 19, 2010

INC 1 (Intergovermental Negotiating Committee) akan dilaksanakan pada tanggal 7-11 Juni 2010 di Stockholm, Swedia. Pertemuan pertama ini bertujuan untuk mempersiapkan instrumen hukum yang mengikat (legally binding instrument) secara khusus untuk penanganan merkuri. Sekaligus sebagai tindak lanjut dari pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Global ke-25 (UNEP GC/GEMF) yang sebelumnya telah terlaksana pada Februari 2009 di Nairobi. Pada pertemuan tersebut disepakati mengenai penanganan merkuri di tingkat global dan akan menindaklanjutinya melalui legally binding instrument. Tujuan utama dari INC 1 adalah melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan dari bahaya merkuri, yang secara umum tujuan ini berdasarkan pada Konvensi Rotterdam tentang PIC (Prior Informed Consent).

 

Merkuri adalah salah satu logam berat yang berbahaya dan bersifat persisten bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Kasus pencemaran merkuri yang paling fenomenal yaitu “Minamata Diseases” di Teluk Minamata Jepang dan kasus-kasus lainnya yang patut menjadi pelajaran berharga agar tragedi tersebut tidak terulang kembali.

 

Sektor-sektor yang akan bersinggungan langsung dengan penerapan legally binding instrument antara lain energi (pembangkit listrik batubara), industri manufaktur (semen dan peleburan logam/metal), industri boiler, kesehatan (penggunaan amalgam gigi dan peralatan medis), pertambangan emas (skala kecil), dan insinerator sampah atauwaste incinerator. Serta sektor-sektor lain seperti chlor-alkali plant (pabrik), dan produksi vinyl chloride, pembuatan produk (lampu hemat energi).

 

Dampak terhadap kesehatan berhubungan dengan merkuri adalah kasus autisme di Indonesia yang mulai mencuat. Sampai saat ini belum ada data yang pasti mengenai jumlah penyandangnya. Namun berdasarkan Autism Society of Indonesia, dalam seminggu setiap poliklinik autisme dikunjungi rata-rata 4 sampai 5 penderita baru autisme. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat tajam. Penyebab autisme memang berdasar pada penyebab multifaktor dengan salah satu penyebab yaitu bahan merkuri/air raksa yang sering ditemukan pada ikan-ikan hasil tangkapan.

 

Indonesia menyikapi persoalan penanganan merkuri secara regional berkaca dari perkembangan kesepakatan dan kerjasama global dalam pengelolaan bahan kimia dan merkuri. Dari berbagai sisi, kondisi ini menciptakan sikap dilematis bagi pemerintah Indonesia. Di satu sisi kerjasama  dan kesepakatan ini memberikan perlindungan terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup, pengelolaan kimia dan merkuri dilakukan dengan pendekatan “sound chemical management”. Namun, di sisi lain pemerintah melihat hal tersebut juga memberikan beban bagi bermacam sektor seperti penggantian bahan baku, penggantian teknologi (retrofitting), dan penambahan peralatan pengendalian pencemaran. 

Di sektor kesehatan, penggunaan alat-alat medis secara digital (digital health care) telah dikembangkan dan digunakan untuk menggantikan peralatan medis, seperti thermometer dan alat pengukur tekanan darah (sphygmomanometer) yang menggunakan air raksa

 

Hal lain yang juga masih menjadi perdebatan adalah sikap kongkrit Indonesia untuk penanganan masalah merkuri adalah pilihan untuk meminimasi (minimizing) atau menghapus (eliminating) merkuri di berbagai sektor dan produk. Pada akhirnya Indonesia akan menghadapi tantangan tersendiri untuk mencari substitute (pengganti) apabila memang harus menghapus merkuri. Kesediaan Indonesia untuk memutuskan penghapusan merkuri sebagai upaya terbaik dalam menyelesaikan permasalahan merkuri tentunya tidak hanya membutuhkan komitmen dari berbagai elemen pemangku kepentingan atau stakeholder. Tetapi, bersedia pula untuk secara konsisten dan konsekwen tentang penanggulangan eliminasi merkuri yang dapat dilakukan secara gradual.   

 

Maka, hal penting yang dipersiapkan Indonesia dalam kesepakatan dan kerjasama global khusus tentang merkuri adalah proses INC 1 (Intergovermental Negotiating Committee) yang akan berlangsung. Proses yang penting sebagai tahap awal untuk persiapan Konvensi Merkuri dan para stakeholder dapat terlibat secara aktif dalam menyiapkan posisi Indonesia dalam negosiasi konvensi merkuri.

 

Please reload