SAICM (Strategic Approach to International Chemicals Management)

SAICM merupakan pendekatan strategis dalam mengelola bahan kimia secara internasional untuk memenuhi tujuan World Summit on Sustainable Development (WSSD). SAICM bertujuan untuk mengubah proses bahan kimia diproduksi dan digunakan untuk meminimalisir resiko dampak berbahayanya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. SAICM juga menghimbau phasing-out bahan kimia atau pemakaian bahan kimia dengan potensi bahaya dan resiko yang tidak dapat ditangani pada tahun 2020.

Tahun 2006, pemerintah seluruh dunia mengadopsi SAICM yang bukan merupakan legally binding treaty, tetapi lebih kepada voluntary treaty. Indonesia ikut mengadopsi SAICM, yang mengarahkan pada pencegahan, pengurangan, pemulihan, serta untuk meminimalisasi dan mengeliminasi resiko dari bahan kimia (dalam produk dan barang). Tiga dokumen utama SAICM adalah The Dubai Declaration, SAICM Overarching Policy Strategy, dan SAICM Global Plan of Action.

Bahan-bahan kimia yang menjadi prioritas untuk dikaji dalam SAICM antara lain yang bersifat persisten/sangat persisten, bio-akumulasi dan memiliki substansi toksik (PBTs), bersifat karsinogen atau mutagen (dampak fatal pada sistem reproduksi, endokrin, sistem syaraf, atau sistem kekebalan tubuh). Selain itu pengkajian pada bahan kimia seperti merkuri dan lainnya yang menjadi perhatian/masalah global, serta bahan kimia yang diproduksi/digunakan dalam volume tinggi dan disebarkan secara luas.

Saat ini IPEN (International POPs Eliminations Network) melakukan global outreach campaign untuk SAICM. Secara singkat generalisasi tujuan SAICM dalam pengurangan resiko menuju chemical safety dimana aktivitas dan kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut diterapkan dengan pendekatan pencegahan dan memberi prioritas, seperti misalnya pencegahan polusi. Begitupun dengan alternatif bahan kimia yang aman dan ramah lingkungan harus dikembangkan, diperkenalkan, dan didukung, termasuk di dalamnya adalah teknologi yang lebih bersih dalam proses produksi, serta menginformasikan bahan kimia pengganti, dan alternatif non-kimiawi.

Terkait dengan tujuan penyebaran pengetahuan dan informasi pengelolaan bahan kimia, maka langkah penyebarluasannya kepada semua pemangku kepentingan disampaikan dengan bahasa yang tepat, dalam arti menyampaikan secara jelas tentang life-cycle bahan kimia, serta langkah dipercepatnya penelitian secara ilmiah dan pengembangan pada teknologi pengendalian bahan kimia.

Sedangkan pengintegrasian dalam pemerintahan adalah dengan menyuarakan pengelolaan manajemen bahan kimia di multi sektoral, dengan dipayungi oleh regulasi, hukum atau kebijakan nasional. Serta adanya koordinasi antar-negara dengan bekerjasama untuk bertukar informasi dalam mencegah perdagangan ilegal internasional produk bahan kimia beracun. Implementasi secara domestik dan regional berdasarkan kesepakatan bilateral harus diperkuat dengan melarang, membatasi, maupun mencegah bahan kimia beracun dan berbahaya, termasuk di dalamnya produk-produk dan limbah yang mengandung senyawa beracun.

Capacity building yang menjadi tujuan SAICM menjadi prioritas strategi dalam pembangunan sosial dan ekonomi yang ditujukan untuk strategi pembangunan berkelanjutan, sekaligus sebagai strategi penanggulangan kemiskinan, serta sebagai strategi asistensi negara. Sebagai catatan, organisasi multilateral, penyandang dana, dan pemegang kepentingan lainnya harus membangunkan kesadaran tentang relevansi dari chemical safetyadalah untuk pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan.

(Deskripsi mengenai petunjuk dan gambaran lebih lengkap mengenai SAICM melalui pemaparan terperinci dari “An NGO Guide to SAICM” dapat dilihat di http://www.ipen.org/campaign/education.html)

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA