Global and Regional Networks


Terkait dengan toxic pollutants yang menjadi permasalahan global saat ini, berbagai organisasi internasional dan jaringannya sejak beberapa periode telah memberikan perhatian yang begitu besar pada isu-isu yang berkaitan dengan polutan berbahaya dan B3. Lingkungan dan kesehatan manusia yang semakin terancam menjadi platformpenting untuk mengkaji lebih dalam tentang cara penanggulangan, serta tindakan-tindakan lainnya yang lebih nyata untuk diterapkan.

IPEN (International POPs Elimination Network)

IPEN (International POPs Elimination Network) adalah jaringan dengan anggota sekitar 600 NGO dan individu dari 80 negara, sebagai leading NGO untuk isu-isu yang terkait Konvensi Stockholm. Kampanye yang dilakukan oleh IPEN antara lain IPEP (International POPs Elimination Project) dan SAICM global outreach and campaign. IPEP didanai oleh UNEP pada awalnya direncanakan hanya dilakukan di 40 negara yang dilaksanakan 2004-2006. Realisasinya akhirnya dilaksanakan oleh 120 negara oleh 297 NGO sebagian besar dalam bentuk studi, tulisan, assessment, capacity building dan policy guidance. Tiga diantara NGO yang bergabung berasal dari Indonesia yaitu BaliFokus, FIELD, dan Gita Pertiwi. IPEP mendorong pemerintah dalam melaksanakan komitmen mereka pada Stockholm Convention pada artikel 9 dan 10, tentang kewajiban melakukan pertukaran informasi terkait alternatif POPs, pengurangan POPs, program pendidikan tentang POPs; mempromosikan tentang kesadaran POPs pada para pembuat kebijakan dan publik, program pendidikan tentang POPs, mengakomodasi informasi dan partisipasi publik terkait isu POPs. (www.ipen.org)

GAIA (Global Alliance for Incinerator Alternatives/Global Anti-Incinerator Alliance)

GAIA secara umum memiliki tujuan menunjukkan bagaimana menghentikan insinerator dalam rangka mengatasi perubahan iklim dan ketidakadilan permasalahan lingkungan, serta mengimplementasikan zero wastesebagai alternatif. Merujuk pada dualitas GAIA secara organisasi, pertama yaitu Global Anti-Incinerator Allianceyang menitikberatkan pada mobilisasi aksi akar rumput mencegah penyebaran insinerator dan pembuat polusi lainnya, serta teknologi end-of-pipe waste. Sedangkan refleksi kedua, yaitu Global Alliance for Incinerator Alternatives bertujuan untuk membangun gerakan dalam memperjuangkan keadilan terhadap lingkungan, local green economies, dan mengadakan solusi kreatif untuk zero waste.

GAIA berdiri pada tahun 2000 beranggotakan lebih dari 500 organisasi akar rumput dan individu yang berasal dari 80 negara. Tergabung untuk terus melanjutkan menutup insinerator, landfill, dan teknologi lain end-of-pipe waste, serta mempromosikan solusi keselamatan lingkungan. Semua anggota berkomitmen untuk meningkatkan solidaritas komunitas serta berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama yaitu toxic-free world tanpa insinerasi. GAIA dalam salah satu kampanyenya juga gigih menyuarakan perdagangan limbah beracun. Kondisi tersebut dianggap sebagai hasil dari kesepakatan perdagangan ‘neo-kolonial’, yang mencoba memaksa pemerintah yang lebih lemah secara politis untuk menerima limbah/benda-benda buangan yang kemudian diberi nilai lebih ekonomis oleh negara yang lebih kuat. (www.no-burn.org)

BAN (Basel Action Network)

BAN (Basel Action Network) menjadi leading global NGO untuk isu terkait dengan Konvensi Basel. BAN banyak melakukan intervensi dan lobby di tiap COP (Conference of the Parties) Konvensi Basel. BAN aktif mengkampanyekan Ban Amendment, limbah elektronik, perdagangan limbah berbahaya beracun, dan mendorong semua negara untuk meratifikasi empat konvensi (Basel Convention, Stockholm Convention, Rotterdam Convention dan Aarhus Convention).

Pada tahun 1998, dimotori Jim Puckett (Greenpeace) mendirikan BAN, dan beberapa negara Afrika mengajukan Basel Ban Amendment untuk mengatur lebih jauh pelarangan pembuangan limbah dan bahan B3 dari negara maju ke negara miskin atau berkembang. Beberapa pasal dalam Konvensi Basel mewajibkan negara-negara peratifikasi konvensi untuk menetapkan tarif agar meminimalkan lintas batas limbah. Pasal lainnya adalah tarif untuk produk ESM (Environment Sound Management) di negara pengimpor. Oleh karena itu, jika tarif diturunkan atau bahkan dihilangkan secara tidak langsung akan memfasilitasi perdagangan sampah. Perjuangan untuk mengikat Basel Ban Amendment ini ditentang oleh negara‐negara maju. Sampai dengan COP 9 Juni yang lalu di Bali, keputusan untuk mengadopsi Basel Ban Amendment ini belum juga tuntas.

Salah satu concern utama BAN adalah Japan Economic and Partnership Agreement (JEPA). Jepang mengikat janji perdagangan dengan negara-negara berkembang termasuk Indonesia (sekarang di level ASEAN juga) dan cenderung menawarkan dampak yang merugikan. Menurut pengamatan Gutierrez (2008) dari Greenpeace, beberapa limbah berbahaya dalam lampiran EPA (Economic Partnership Agreement) dimasukkan dalam daftar “barang-barang yang diliberalisasi”. Misalnya, abu dan residu dari insinerator hasil pembakaran sampah dan yang mengandung arsenik; merkuri; thallium atau campurannya; sampah produk farmasi dan limbah medis; baterai bertimbal; minyak bekas yang mengandung PCBs, PBTs; DDT, dan senyawa-senyawa berbahaya lainnya. Perpindahan sampah yang sebagian besar belum didaur ulang tersebut dikarenakan meningkatnya biaya pengolahan sampah di negara-negara maju. Sehingga membuat lebih murah mengekspornya, daripada mengolah kembali di dalam negeri. (www.ban.org)

HCWH (Health Care Without Harm)

Health Care Without Harm (HCWH) adalah NGO yang berbasis di Amerika Serikat yang banyak melakukan kampanye, lobi, implementasi, tentang penyediaan solusi alternatif untuk limbah medis, permasalahan merkuri pada perawatan kesehatan, pembangunan kesehatan, PVC, dioksin, DEHP (soft plastic), dan pestisida. Ada beberapa tujuan utama HCWH antara lain menciptakan kebijakan dan pasar dengan produk, material, dan bahan kimia pada perawatan kesehatan yang lebih aman. Kemudian eliminasi insinerasi limbah medis, mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan serta toksik yang terkandung di dalamnya dan mempromosikan praktek pengolahan limbah yang lebih aman, menjamin tempat bekerja yang aman dan sehat untuk kesehatan para pekerja, menjamin akses informasi bagi pasien, para pekerja dan komunitas tentang penggunaan bahan kimia pada perawatan kesehatan.

HCWH menyediakan panduan/guidelines untuk kampanye dan implementasinya. Anggota HCWH terdiri dari 473 NGO dan individu yang tersebar di lebih dari 50 negara. (www.noharm.org)

Zero Mercury Working Group

UNEP Global Mercury Assessment report diluncurkan pada tahun 2002. Tahun 2003 pada sidang ke-22 UNEP Governing Council (GC) menyatakan bahwa terdapat bukti yang cukup dari dampak buruk merkuri secara global dan memerlukan tindakan nyata secara internasional. Merkuri sebagai global pollutant yang harus didorong dengan pengurangan (reduction), prioritas, tujuan, dan pendekatan-pendekatan. Seperti yang telah diketahui, usaha pengurangan merkuri secara global telah diupayakan, tetapi surplus merkuri terutama di negara-negara berkembang masih tinggi. Merkuri biasanya dimurnikan kembali dan banyak digunakan di pertambangan emas skala kecil. Indonesia sendiri belum memberikan perhatian secara khusus dan serius atas permasalahan merkuri ini.

Global Mercury membutuhkan Supply Reduction and Management, Source Preferences, Curbing Excess Supplies, dan kajian Trade Implications. Pada tahun 2003 UNEP GC membentuk UNEP Mercury Programme dimana NGO internasional terlibat aktif di dalamnya. Program-program meliputi awareness-raising workshops, mengembangkan dan mendistribusikan guidance materials dan toolkits, serta menyediakan clearinghouse untuk informasi terkait merkuri. (www.zeromercury.org)

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA