© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Please reload

Recent Posts

PBB Memutuskan untuk Mengontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

May 10, 2019

1/1
Please reload

Featured Posts

Toxic Pollutants (Polutan Beracun)

April 1, 2010

Toxic materials dapat berasal dari logam berat, pestisida sampai dengan flame retardants, dan senyawa-senyawa kimia berbahaya yang tak terpisahkan dalam kehidupan, bagian dari aktivitas, dipergunakan atau dikonsumsi oleh kita. Sifat, jumlah, dan kuantitas bahan kimia yang digunakan sangat bervariasi di berbagai negara. Indonesia sendiri menjadi dumping ground limbah beracun untuk negara-negara maju dalam bentukfertilizer/pupuk, lumpur, atau limbah untuk didaur ulang kembali. Bahan berbahaya beracun  (B3) ada dalam bentuk sebagai bahan baku dalam proses produksi dalam industri, pertambangan atau manufaktur. Lalu sebagai bagian dari produk dan sebagai limbah (padat, gas, dan cair). Secara umum sifat dari B3 adalah mudah meledak (explosive), mudah terbakar (flammable), reaktif (reactive), beracun (poisonous), infeksius (infectious), dan korosif (corrosive).

 

POPs (persistent organic pollutants) menyebar melalui sumber-sumber vital kehidupan, seperti udara dan air, proses bioakumulasi dalam rantai makanan. Keseluruhannya berdampak kepada manusia dan ekosistem. Karakteristik khusus dari POPs adalah persisten, semi volatil (menguap) dengan periode yang cukup lama berada di lingkungan, serta penyebarannya mencapai jarak jauh (transboundary/regional/global) juga dapat melalui migrasi spesies/organisme seperti ikan dan burung. Selain itu merupakan disrupter endokrin/hormon (terutama estrogen), sebagian besar karsinogenik/penyebab kanker. Pestisida merupakan kategori POPs yang paling populer dengan kandungan senyawa berbahayanya, selain terdapat POPs yang dibuat atau terjadi tidak sengaja dan masih dipakai. Istilah Dirty Dozen kemudian dikenal untuk menyebutkan daftar dua belas senyawa paling berbahaya, yaitu aldrin, chlordane, DDT, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex dan toxaphene (delapan organo-chlorine dalam pestisida); senyawa kimia industri: HCB (hexachlorobenzene) dan PCB (poly chlorinated biphenyl; serta dioxin dan furans (group industrial by-products).

Hampir 90% senyawa toksik dilepaskan melalui udara. POPs memiliki pola penyebaran dengan cara menguap di kawasan temperatur hangat, kemudian bergerak dibantu oleh angin ke kawasan yang lebih dingin seperti di Utara dan Selatan serta mengendap dan jatuh ke daratan

 

Limbah elektronik (electronic waste) adalah barang eletronik  yang sudah tidak terpakai, rusak, dan diniatkan untuk dibuang. Komponen sampah elektronik sebagian dapat didaur ulang (plastik dan logam), tetapi komponen lain berupa logam berat merupakan limbah bahan beracun berbahaya (B3). Beberapa contoh logam berat berbahaya adalah mercury (Hg), kadmium (Cd), arsen (As), kromium (Cr), talium (Tl), dan timbal (Pb). Racun kimia dari barang elektronik yang rusak menyebabkan kerusakan permanen pada air (tidak layak konsumsi), tanah, atau menguap meracuni udara. Level dioksin yang tinggi pada tempat pembuangan metode daur ulang limbah elektronik mengakibatkan masalah kesehatan krusial. Seperti, merusak sistem syaraf, kulit, ginjal, mengganggu sistem reproduksi dan pencernaan, gangguan endokrin, kanker (mutagenik), dan keracunan.

 

Limbah elektronik menurut PBB, sekitar 20 sampai 50 juta ton dihasilkan  per tahunnya. Ironisnya, 70% dari limah tersebut dibuang ke negara miskin dan berkembang

 

Mercury (Hg), meskipun tidak banyak penggunaannya dalam produk, kadar toksik merkuri sangat tinggi dan merusak, serta tidak ada batas aman untuk pemakaian merkuri secara langsung maupun tidak langsung. Merkuri dapat ditemui pada alat-alat medis (thermometer, alat ukur tekanan darah), kosmetik, lampu CFL (lampu hemat energi), amalgam untuk tambal gigi, penambangan rakyat (artisanal gold mining), hasil pembakaran atau insinerasi sampah dan terkandung dalam ikan atau seafood di kawasan sekitar industri. 

 

Pertambangan rakyat merupakan sumber terbesar ke-2 pencemaran merkuri dunia setelah pembakaran bahan bakar fosil, seperti pada pembangkit listrik dan rumah tangga yang memakai batu bara

 

Lead/Timbal (Pb) adalah susunan unsur yang termasuk logam berat yang kegunaan utamanya sebagai bahan perpipaan, bahan aditif untuk bensin, baterai, kosmetik, obat-obatan tradisional, cat, dan lain-lain. Penyebab kehadiran timbal salah satunya adalah pencemaran udara dari kegiatan transportasi darat (gas buang). Manusia menyerapnya melalui udara, debu, air, dan makanan. Efek bahayanya terhadap kesehatan terutama pada sistem syaraf dan kecerdasan, terhadap reproduksi pria dan wanita, dan menimbulkan efek sistemik seperti gejala gastrointestinal (anoreksia, mual, kram, kehilangan berat badan).

 

Varian senyawa lain yang berbahaya adalah asbestos. Barang yang biasanya menggunakan asbes antara lain pipa semen dengan serat asbes, komponen transmisi kendaraan bermotor, produk atap bangunan, dan lain-lain. Kerusakan material yang mengandung serat asbes akan menimbulkan debu asbes. Dampaknya akan sangat berbahaya apabila terhirup dan masuk paru-paru. Tidak ada ambang batas aman yang diketahui. Partikel serat asbes yang terlepas ke udara akan menimbulkan penyakit yang biasanya tampak dalam rentang waktu antara 10-50 tahun.  Penyakit yang bisa ditimbulkan biasanya menyerang  paru-paru, seperti asbestosis, kanker paru-paru, mesothelioma, dan penyebaran penebalan pleura.

 

Asbes atau asbestos adalah salah satu bahan tambang yang dapat ditemui dengan mudah di dunia dalam bentuk benang serta atau gumpalan serta. Banyak digunakan untuk pembangunan gedung dan bahan isolasi. Asbes mengandung bahan chrysotile merupakan barang mineral bersifat karsinogen penyakit pemicu kanker

 

Medical wastes merupakan semua sampah atau limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah-sakit, fasilitas kesehatan, dan kegiatan penunjang lainnya (padat maupun cair). Limbah ini juga menjadi permasalahan tersendiri dengan efek dan dampak berbahaya yang ditimbulkannya. Limbah benda tajam yang terbuang memiliki potensi bahaya dan menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan, dengan kemungkinan terkontaminasi oleh darah, cairah tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radio aktif (seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pisau bedah). Limbah infeksius, berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif). Limbah jaringan tubuh, dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi. Limbah sitotoksik, bahan yang/mungkin terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik. Limbah farmasi berasal dari obat-obat kadaluwarsa, tidak lagi diperlukan, tidak memenuhi spesifikasi atau terkontaminasi. Limbah kimia, dihasilkan dari penggunaan bahan kimia dalam tindakan medis, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset. Terakhir adalah limbah radioaktif dapat berbentuk padat, cair atau gas, berasal dari tindakan kedokteran nuklir, radio-imunoassay dan bakteriologis.

 

Limbah klinis berasal dari pelayanan medis, perawatan gigi, veterinari, farmasi atau sejenis, pengobatan, perawatan, penelitian atau pendidikan yang menggunakan bahan-bahan beracun, infeksius berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu

 

Jenis-jenis polutan tersebut berasal dari bahan-bahan kimia berbahaya  dan persebaran keberadaannya masih dapat ditemui secara masif melalui produk/consumer goods. Sebagian besar bahkan tidak diketahui secara persis manfaatnya bagi kesehatan dan lingkungan, serta justru menjadi ancaman serius bagi kelangsungan kehidupan. Bahkan terdapat hampir lebih dari 100.000 bahan kimia sintetik, tetapi hanya beberapa saja yang telah diuji dampaknya bagi kesehatan manusia. Selain realitas minimnya tes atau uji lab untuk menguji satu atau campuran bahan kimia, yang juga selayaknya mendapatkan perhatian adalah persoalan penanganan polutan beracun yang kian menjadi momok bagi kita bersama.