Search
  • Admin

Siaran Pers: COP2 Perjanjian Merkuri: Berjalan lambat mengejar peningkatan emisi merkuri global 20%


28 November 2018

Solusinya: Tutup sumber energi dari batubara dan larang perdagangan merkuri

Jakarta, Indonesia - Sementara para delegasi Konferensi Kedua Para Pihak (COP2) dari Konvensi Minamata tentang Merkuri selama seminggu menegosiasikan kata-kata yang tepat untuk berbagai pedoman sukarela, berita mengejutkan bahwa emisi merkuri beracun global telah melonjak 20% dalam 5 tahun diumumkan oleh UNEP dalam ringkasan Global Mercury Assessment 2018.

Dr. Tadesse Amera, Co-Chair IPEN, berkata, “IPEN telah lama memperingatkan bahwa kita berada di tengah-tengah krisis merkuri global dan telah berkampanye untuk mendorong tanggapan masyarakat internasional dengan cepat. Sekarang, konvensi ini mengikat secara hukum, dan kita berada di ambang malapetaka. Jika emisi merkuri terus meningkat dengan laju cepat seperti ini, kita menghadapi intensifikasi pencemaran lautan dan cadangan ikan global.”

“Banyak spesies ikan besar sudah terlalu beracun untuk dimakan dengan aman, dan spesies-spesies lainnya akan mengikuti. Perempuan di negara-negara kepulauan kecil bergantung pada ikan untuk asupan protein, dan data kami menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka, memiliki konsentrasi merkuri di atas tingkat paparan aman. Jika kita ingin melindungi populasi di negara-negara kepulauan, kita harus segera mengambil tindakan. Hanya ada satu cara pasti untuk menghentikan polusi merkuri dan cara itu adalah dengan melarang perdagangan merkuri global untuk digunakan dalam penambangan emas skala kecil dan menghentikan pembangunan pembangkit listrik batubara yang mencemari atmosfer,” lanjut Dr. Amera.

Jutaan penambang emas di perkampungan miskin di seluruh dunia menggunakan merkuri elemental untuk mengekstrak emas dari bijih, dan dalam prosesnya, uap merkuri dilepaskan ke atmosfer. Air limpasan dan buangan dari tambang emas yang terkontaminasi merkuri menjadi pencemar utama ekosistem air tawar, dan mencemari cadangan ikan dengan methylmercury. Baik ekosistem air laut maupun air tawar, sama-sama terdampak oleh merkuri, dan mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi akan meningkatkan beban merkuri dalam tubuh manusia di seluruh dunia. Sayangnya, Konvensi masih mengijinkan perdagangan dan penggunaan merkuri untuk praktik tambang emas ini untuk selama beberapa tahun lagi, meskipun hal ini sudah dikenal luas sebagai penyebab utama pencemaran merkuri di atmosfer.

"Untuk mencegah peningkatan emisi merkuri dan pelepasan ke lingkungan dengan cepat, penambangan dan produksi merkuri yang digunakan dalam penambangan emas skala kecil (PESK atau ASGM) harus dilarang sesegera mungkin," kata Yuyun Ismawati, IPEN Lead untuk ASGM/Mining.

“Emisi merkuri di wilayah Amerika Latin, terutama dari sektor ASGM, bertanggungjawab atas 58% emisi merkuri global, sementara emisi dari sektor yang sama di Asia Timur dan Asia Tenggara berkontribusi sekitar 38%. Reformasi kebijakan dan peraturan yang berjalan lambat di negara-negara penghasil merkuri (antara lain Meksiko dan Indonesia), akan meningkatkan biaya sosial, lingkungan dan kesehatan secara global,” lanjut Yuyun.

Emisi dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara di seluruh dunia juga memuntahkan merkuri ke atmosfer bumi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, hanya untuk berakhir dan terdeposisi di lautan dan memperburuk pencemaran merkuri di sektor perikanan.

Penasihat Kebijakan Merkuri dari IPEN, Lee Bell mengatakan, “Kemajuan untuk mengurangi emisi merkuri dengan mengikuti langkah-langkah yang disepakati dalam Konvensi sangat lambat. Pengurangan yang bisa dicapai hanya sedikit, sementara itu kita dibanjiri oleh lonjakan emisi merkuri global. Batubara dipandang sebagai fasilitas yang tidak bermasalah di Konvensi. Ribuan pembangkit energi berbasis batubara tidak diwajibkan untuk menggunakan kontrol pengendalian emisi dengan praktik terbaik, dan pembangkit yang dibangun dalam beberapa tahun ke depan juga tidak perlu melakukan apa-apa. Hal ini berarti bahwa lebih dari 5.000 pembangkit batubara akan lolos dari kontrol emisi merkuri secara signifikan. Delegasi yang merundingkan pengecualian untuk melindungi industri batubara, telah menghabiskan waktu yang berharga untuk menghentikan pencemaran merkuri ini.”

IPEN merilis laporan biomonitoring merkuri terbaru di COP2, berjudul Ancaman Merkuri untuk Perempuan dan Anak-Anak di Tiga Samudra: Peningkatan Merkuri pada Perempuan di Negara dan Negara Bagian Kepulauan Kecil”, yang menunjukkan tingkat merkuri yang tidak aman pada sekelompok perempuan usia subur di 21 negara yang diteliti. Program pemantauan biomonitoring dengan menggunakan sampel rambut ini mengungkapkan bahwa 58% dari wanita yang berpartisipasi dalam studi memiliki tingkat merkuri dalam rambut di atas 1 ppm - tingkat ambang aman yang ditetapkan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) di Amerika Serikat.

Imogen Ingram, IPEN Small Island Developing States Focal Point, mengkoordinir pengambilan sampel rambut di kalangan perempuan usia subur di Pasifik dengan hasil yang mengkhawatirkan.

Ingram berkata, “Di daerah lain, penelitian menunjukkan bahwa populasi pemakan ikan telah menderita dampak kesehatan yang merugikan. Selain itu, sains terbaru menunjukkan bahwa bahkan konsentrasi metilmerkuri berkadar rendah dalam jangka panjang akan terakumulasi dalam tubuh. Saya tidak ingin melarang orang-orang Pasifik untuk tidak makan ikan - meskipun dalam banyak kasus, itu berarti bahwa mereka akan mempunyai diet tanpa protein harian. Selain itu, ikan mengandung minyak omega-3 yang berguna untuk kesehatan manusia. Sebaliknya, negara-negara di dunia harus bekerja sama melalui Konvensi ini untuk mengurangi kontaminasi merkuri ikan, sehingga aman bagi semua orang untuk makan.”

Negosiasi pada COP2 berfokus pada kesepakatan-kesepakatan melalui proses birokrasi yang lambat untuk mengembangkan panduan sukarela tentang ambang limbah merkuri, lepasan merkuri, lokasi yang terkontaminasi, penyimpanan sementara dan inventarisasi lepasan merkuri. Kemajuan dalam penyusunan panduan akan sangat berguna untuk banyak negara, tetapi membutuhkan waktu untuk menghasilkan dampak yang signifikan. Karena pembahasan komite-komite yang akan mengembangkan panduan itu dilebur dalam kelompok teknis, dengan perundingan-perundingan sampai larut malam, berita yang tidak menyenangkan dari UNEP bahwa emisi global telah melonjak besar-besaran dari tahun 2010-2015 memberi bayangan gelap atas proses dan rasa tidak percaya pada kemampuan Konvensi untuk bertindak cukup cepat dalam merespon pencemaran merkuri. Jelas bahwa tindakan mendesak untuk menetapkan kerangka implementasi Konvensi diperlukan, terutama jika negara-negara harus bertindak secara independen dan melarang ekspor merkuri untuk menghentikan perdagangan lebih lanjut.

Dr. Amera berkata, “Jika saja sebagian besar negara di dunia mengumumkan larangan impor dan ekspor merkuri besok, hal ini tidak akan berdampak pada ekonomi mereka secara signifikan. Beberapa hal yang terdampak - dapat diabaikan. Mengakhiri perdagangan merkuri melalui larangan perdagangan global adalah cara tercepat untuk menghentikan bencana kontaminasi ini. Negara-negara harus bekerja dan membuat kesepakatan lebih dari yang diminta dalam Konvensi, kita tidak punya waktu untuk disia-siakan. Perdagangan beracun merkuri harus diakhiri.”

-------------------------------------------------

Kontak:

Sonia Buftheim, +62 877-8237-8890, sonia@balifokus.asia

Yuyun Ismawati, +447583768707, yuyun@balifokus.asia

Dokumen:

Ancaman Merkuri untuk Perempuan dan Anak-Anak di Tiga Samudra: Peningkatan Merkuri pada Perempuan di Negara dan Negara Bagian Kepulauan Kecil.

Dokumen siaran pers.

#PressRelease #IPEN #Toxics #MercuryTreaty #Mercury #MinamataConvention #COP2

19 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA