© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA

Search
  • Admin

Apa itu racun POPs?


Credit: UNDP China

Kali ini kami berbagi informasi tentang POPs atau Persistent Organic Pollutants (polutan organik yang persisten). POPs adalah kimia-kimia berbahaya dan beracun yang terakumulasi di lingkungan, mengalami biomagnifikasi dalam tubuh kita dan mahluk hidup lainnya serta bisa berjalan jauh dari sumber/asal pencemaran.

Kimia-kimia yang masuk dalam kategori POPs ini diatur dalam Konvensi Stockholm. Indonesia sudah meratifikasi pada tahun 2009. Saat ini ada 29 POPs yang disepakati dilarang di seluruh dunia. POPs ini antara lain pestisida organokhlorin (Endrin, DDT, Lindane, dll), PCBs, dioxins/furans, dan kimia-kimia lain yang sulit dieja maupun diucapkan orang awam. Singkatnya: makin rumit nama kimianya, zat/senyawa kimia itu semakin berbahaya.

Baca lebih jauh di sini http://chm.pops.int/TheConvention/ThePOPs/TheNewPOPs/tabid/2511/Default.aspx

Setiap tahun ada pertemuan para ahli untuk menentukan apakah suatu substansi/senyawa kimia bisa digolongkan ke dalam POPs atau tidak. Kalau ya, harus dilarang dan stop produksi serta perdagangan/peredarannya. Pertemuan POPRC14 (POPs Review Committee) tahun ini membahas kelompok fluorinated chemicals: PFHxS, PFOA, dan PFOS.

PFOA (Perfluorooctanoic acid):

dikenal juga sebagai C8 dan perfluorooctanoate, digunakan dan dikenal secara luas dalam produk-produk konsumen sebagai Teflon dan Gore-Tex.

POPRC14 akan memfinalkan daftar rekomendasi untuk diambil keputusannya pada COP9 bulan April/Mei 2019, termasuk kemungkinan-kemungkinan pengecualian (exemptions).

PFOS (Perfluorooctanesulfonic acid):

merupakan bahan utama Scotchgard, fabric protector buatan 3M, dan digunakan untuk berbagai stain repellents. Rekomendasi POPRC diharapkan dapat menutup kesenjangan atau kekurangan dari PFOS yang sudah masuk ke dalam list Stockholm Convention talun 2009 (sudah hampir 10 tahun). COP9 yang akan datang akan memutuskan apakah berbagai loopholes/kesenjangan ini akan tetap diperlukan atau tidak.

PFHxS (Perfluorohexane sulfonate):

sama halnya dengan C8 homologue, PFOS, PFHxS sangat persisten dan dapat berpindah jauh dari sumbernya. PFHxS banyak digunakan sebagai flame retardant (penghambat nyala) dalam finishing karpet, kertas dan tekstil, juga berpotensi bioakumulasi lebih tinggi dalam tubuh manusia dibandingkan PFOS, dengan paruh waktu masa eliminasi sekitar 8,5 tahun. POPRC14 akan menentukan apakah aksi global dapat diumumkan agar evaluasi dapat bergerak ke tahap berikutnya.

Selain PFHxS, saudaranya, PFHxSF (perfluorohexane sulfonyl fluoride), juga berpotensi berisiko tinggi dan saat ini banyak digunakan dalam berbagai aplikasi seperti: tektil, surfactants dan foams pemadam api, packaging, electronik dan semikonduktor, industrial fluids, coatings, agrichemicals, dan juga sebagai intermediate feedstock. Pasar PFHxSF terbesar adalah di Asia (diprediksi pada tahun 2020 akan mencapai >500 juta USD, sementara itu di Eropa 70-90 juta USD, di US dan Canada 100 juta USD). Sebaran PFHxS paling mudah adalah lewat air dan makanan sehingga akan diperlukan pemantauan yang serius.

Full position paper IPEN untuk meeting POPRC14 dapat dibaca di sini:

https://ipen.org/sites/default/files/documents/Quick%20IPEN%20Views%20POPRC14%20%2010%20Sept%202018.pdf

Kalau KLHK kelak menginstruksikan penarikan produk-produk yang mengandung Teflon, perlu dipertimbangkan bagaimana mekanisme penarikan dan pemusnahannya mengingat produk-produk tersebut cukup tersebar luas digunakan dalam berbagai consumer goods. Bila dibiarkan berlama-lama, risiko carcinogenic dari kimia-kimia POPs berpotensi meningkatkan biaya kesehatan publik. Sementara itu penanganan limbah yang mengandung POPs juga harus hati2, TIDAK BOLEH DIBAKAR.

Mengingat chemicals di atas digunakan secara luas dalam berbagai produk, industry lobbyists kemungkinan besar akan mendominasi ruangan negosiasi.

LSM anggota IPEN di Indonesia, berharap Bapak Dr. Agus Haryono (LIPI) sebagai wakil Asia dan Indonesia dapat memperjuangkan kontrol produksi dan penggunaan kimia-kimia POPs berbahaya beracun di atas dengan ketat dan mempertimbangkan kepentingan publik tinimbang mengakomodasi kepentingan industri.

Seperti halnya dengan pengaturan kimia-kimia B3 lain di Indonesia, kami pesimis kita bisa punya kebijakan yang kuat untuk melindungi kesehatan masyarakat dan konsumen karena kuatnya lobi industri dan produsen. Terkadang industri/produsen juga menerapkan double standard karena di negara asal mereka, kemungkinan kimia-kimia yang digunakan di pabrik mereka di Indonesia, sudah dilarang tapi di Indonesia masih diperbolehkan dengan berbagai alasan.

Kita sebagai konsumen harus terus aktif mencari informasi dan mengikuti berbagai perkembangan dunia terutama yang menyangkut produk2 yang mengandung kimia B3.

Salam sehat bebas racun! Semoga bermanfaat.


73 views