Search
  • Admin

SIARAN PERS: Stop Cat Bertimbal dan Atap Asbes di Fasilitas Pendidikan Anak Indonesia


Jakarta, 23 Oktober 2017- Fasilitas belajar dan bermain anak dan maraknya kampung pelangi di beberapa kota di Indonesia yang berwarna-warni berpotensi menjadi sumber paparan timbal yang dapat menyebabkan gangguan tumbuh-kembang serius pada anak-anak.

Penggunaan cat bertimbal di PAUD maupun di rumah-rumah merupakan sumber paparan timbal yang mudah diakses oleh anak-anak. Beberapa alat bermain dan perabotan, seperti alat permainan kayu dan logam, bangku-meja, perabot dan bangunan fasilitas PAUD lainnya yang diberi cat warna terang harus diwaspadai. Selain timbal, banyak fasilitas anak-anak juga menggunakan atap dari bahan asbestos. Debu asbes di fasilitas-fasilitas PAUD, TK, playground dan TPA berisiko tinggi terhadap kesehatan anak-anak dalam jangka panjang. WHO menyatakan bahwa asbes dan timbal merupakan 2 dari 10 kimiawi yang harus mendapat prioritas perhatian (chemicals of concern).

Melalui GAELP (Global Alliance to Eliminate Lead Paints) WHO didukung oleh United Nations Environment (UN-Environment) menetapkan periode 22-28 Oktober 2017 sebagai International Lead Poisoning Prevention Week of Action 2017 (Pekan Internasional Pencegahan Bahaya Timbal 2017). Kegiatan ini adalah kegiatan tahun kelima yang terus dilakukan di setiap minggu ke-3 di bulan Oktober yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya cat bertimbal khususnya pada anak-anak.

Kegiatan ini memberikan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang pentingnya menghilangkan cat bertimbal. Secara global, UN-Environment dan WHO bersama beberapa Negara & para pihak yang tergabung dalam GAELP (Global Alliance for the Elimination of Lead in Paint) sepakat untuk menghapuskan timbal dalam cat pada tahun 2020.

Sebuah laporan Global Lead Paint, yang dirilis oleh IPEN, juga sebagai bagian dari ILPPW, menemukan bahwa banyak cat dekoratif yang dijual di lebih dari 40 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menjadi bagian dari penelitian, memiliki konsentrasi timbal yang cukup tinggi - terkadang melanggar peraturan nasional.

"Dampak kesehatan dari paparan timbal pada otak anak-anak balita dan debu asbes akan membekas sepanjang hidup. Hal ini sebetulnya dapat dicegah,” kata Yuyun Ismawati, Senior Advisor BaliFokus. “Dengan membiarkan tetap beredarnya cat-cat bertimbal tinggi, kita membatasi perkembangan intelektual anak-anak kita dan generasi bonus demografi.

Berbagai lembaga pemerintah telah menyambut advokasi masyarakat sipil untuk penghapusan timbal dalam cat. Sejak BaliFokus meneliti timbal dalam cat dekoratif, standar cat berbasis pelarut organic, SNI 8011: 2014 telah dirilis oleh Badan Standarisasi Nasional pada 2015 yang lalu, metetapkan standar sukarela konsentrasi timbal dalam cat yang dijual di pasar Indonesia sebesar 600 ppm.

Kajian Risiko Cat Bertimbal yang dilakukan Pure Earth/Blacksmith Institute, BaliFokus, Komite Penghapusan Bensin Bertimbal. (KPBB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2016 - 2017 di lokasi perumahan serta sarana pendidikan anak-anak (PAUD dan TK) dan taman bermain anak di Jabodetabek menunjukkan cat bertimbal positif ditemukan pada peralatan sekolah (bangku dan meja) dan permainan (ayunan, jungkat-jungkit, panjatan dan seluncuran).

“Enam sekolah dari total 19 sekolah yang dikunjungi dengan bantuan alat XRF (X-Ray fluorescence) menunjukkan hasil pembacaan hingga 10 mg/cm2. Sementara itu batas aman yang direkomendasikan US Department of Housing and Urban Development adalah 1 mg/cm2,” kata Budi Susilorini, Direktur Pure Earth/Blacksmith Institute Indonesia. Karena Indonesia belum memiliki standar, maka digunakan batas aman yang direkomendasikan US Housing and Urban Development.

Meskipun berbagai departemen terkait di Indonesia telah mengeluarkan peraturan dan standar dan mengklasifikasikan asbes sebagai Bahan Berbahaya Beracun (B3), hingga saat ini asbes masih diizinkan untuk diproduksi dan digunakan untuk berbagai keperluan. Bahkan, beberapa pusat pendidikan anak usia dini menggunakan asbes untuk atap ruang kelas.

“Paparan terhadap debu asbes sejak usia dini dapat berpengaruh pada kesehatan anak saat usia dewasa karena efek dari asbes baru akan terlihat 20-30 tahun kemudian,” kata Firman Budiawan dari Ina-BAN (Indonesia-Ban Asebestos Network). “Penyakit terkait Asbes (Asbestos Related Diseases/ARDs) tidak mudah terdeteksi tetapi bisa dihindari. Penggunaan bahan atap lain yang lebih aman dapat mengurangi risiko paparan asbes.”

Paparan debu asbes dapat diminimalkan dengan melapis permukaan asbes dengan cat bebas timbal berbasis air atau berbasis pelarut. Untuk itu, kampanye ini bertujuan untuk mendemonstrasikan aksi sinergi untuk melindungi kesehatan anak-anak dari paparan timbal dalam cat dan debu asbes. Dalam kampanye ini, BaliFokus bekerja sama dengan beberapa produsen cat (Bital, Indaco) untuk mengecat beberapa sekolah terpilih di 3 kota secara gratis dengan cat bebas timbal dan melakukan pengukuran kadar timbale yang telah diaplikasikan pada sarana-prasarana bermain anak bersama Blacksmith Institute.

Pada rangkaian kampanye tahun ini BaliFokus mengawali kegiatan dengan konferensi pers pada 23 Oktober 2017. BaliFokus melakukan kampanye sinergi dan aksi untuk melindungi anak-anak dari paparan timbal dalam cat dan atap asbes di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Yogyakarta dan Denpasar.

SELESAI

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Sonia Buftheim – BaliFokus; sonia@balifokus.asia; +6287782378890

Budi Susilorini - Pure Earth/Blacksmith Institute; budi@blacksmithinstitute.org; +628128008438 Firman Budiawan - INA-Ban; firmanbewee01@gmail.com; +6282218591566

Dokumen siaran pers ini dapat diunduh disini.

#PressRelease #Toxics #LeadinPaint #Asbestos

0 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA