Search
  • Admin

SIARAN PERS: Studi Baru Mengungkapkan Kadar Merkuri yang Berbahaya bagi Perempuan Usia Subur di Selu


UNTUK DIRILIS SEGERA

Studi Baru Mengungkapkan Kadar Merkuri yang Berbahaya bagi Perempuan Usia Subur

di Seluruh Wilayah Global

Untuk informasi lebih lanjut:

Krishna Zaki; krishna@balifokus.asia; WA/HP: +6281230002825

Yuyun Ismawati; yuyun@balifokus.asia; WA: +447583768707

Jakarta, 18 September 2017 - Merkuri, logam neurotoksik, telah ditemukan dalam kadar yang tinggi di semua wilayah global pada perempuan usia subur, menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh IPEN (sebuah jaringan kesehatan masyarakat dan lingkungan global) dan Biodiversity Research Institute (BRI). Perempuan di Kepulauan Pasifik dan di masyarakat di lokasi pertambangan emas di Indonesia, Kenya, dan Myanmar ditemukan memiliki kadar merkuri rata-rata beberapa kali lipat lebih tinggi dari ambang batas yang dianjurkan oleh US Environmental Protection Agency (EPA).

Studi Merkuri pada Perempuan Usia Subur di 25 Negara ini dilakukan untuk mengukur prevalensi beban tubuh merkuri pada tingkat yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis dan organ tubuh. Merkuri di tubuh ibu dapat ditransfer ke janin selama kehamilan, memaparkan neurotoksin yang kuat ke dalam janin yang sedang berkembang. Studi ini merupakan studi yang pertama kali dilakukan untuk sampel di berbagai negara dan wilayah dan menyoroti perempuan usia subur.

Studi ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel rambut dari 1044 perempuan usia subur di 37 lokasi yang tersebar di 25 negara di 6 benua. Analisis yang dilakukan oleh BRI, menemukan 42% dari perempuan yang diambil sampelnya, memiliki kadar merkuri diatas ambang batas 1ppm yang dianjurkan oleh US EPA yang dapat menyebabkan kerusakan otak, penurunan IQ, dan kerusakan ginjal dan jaringan kardiovaskular. Studi ini juga menemukan bahwa 53% dari sampel yang diperiksa memiliki kadar merkuri diatas 0.58ppm, nilai kadar yang dikaitkan dengan timbulnya kerusakan neurologis pada janin.

Di Indonesia, studi ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel rambut dari 67 perempuan usia subur di dua lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Pongkor, Kabupaten Bogor dan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. 97% dari sampel rambut yang diambil di Indonesia memiliki kadar merkuri diatas ambang batas 1ppm yang dianjurkan oleh US EPA, dan keseluruhan sampel yang dikumpulkan di Indonesia memiliki kadar merkuri diatas 0.58ppm.

Studi ini menemukan bahwa konsentrasi merkuri secara signifikan meningkat pada rambut perempuan di berbagai wilayah di dunia terkait dengan tiga penyebab utama pencemaran merkuri: pembangkit listrik berbahan bakar batubara (salah satu sumber pencemar utama yang secara global yang mencemari lautan dengan merkuri yang terakumulasi pada ikan), Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan lahan tercemar lokal dari berbagai industry yang melepaskan merkuri ke tanah, air, dan udara.

Temuan-temuan kunci:

  • Di Kepulauan Pasifik, yang jauh dari semua sumber pencemaran merkuri dari industri namun dimana masyarakatnya mengkonsumsi ikan sebagai sumber makanan utama mereka, 85,7% melampaui ambang batas 1 ppm, dengan sebagian besar perempuan memiliki kadar tiga kali lipat di atas standar US EPA.

  • Lebih dari separuh sampel perempuan di Indonesia, Kenya, Myanmar dan Paraguay memiliki kadar merkuri lebih dari 1 ppm di mana masyarakat hidup dari pertambangan emas berskala kecil. Selain Paraguay, dimana ikan bukan merupakan sumber protein utama, 81% perempuan memiliki kadar di atas 1 ppm, dengan perempuan di dua lokasi di Indonesia memiliki kadar antara tiga sampai sembilan kali di atas ambang batas US EPA untuk merkuri.

  • Satu dari lima perempuan yang diambil sampelnya di dekat lokasi industri berat memiliki kadar merkuri lebih dari 1 ppm. Ini termasuk perempuan di Nepal, Nigeria, dan Thailand, di mana lahan yang terkontaminasi mencemari lahan, perairan dan sumber makanan lokal. Selain itu, perempuan yang hidup di dekat lokasi yang terkontaminasi di Albania, Cile, Kazakhstan, Nepal dan Ukraina memiliki kadar merkuri rata-rata di atas 0,58 ppm.

“Studi ini mengilustrasikan ancaman pencemaran merkuri global terhadap perempuan dan anak-anak di banyak negara di kepulauan Pasifik dan sebagian besar perempuan yang terlibat dalam pertambangan emas skala kecil.” kata Lee Bell, Pimpinan Investigasi ini dari IPEN. “Kadar merkuri yang sangat tinggi yang ditemukan di rambut sebagian besar perempuan ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk melakukan tindakan penghapusan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan perdagangan internasional merkuri yang memasok pertambangan emas skala kecil, dua penyebab paling signifikan dari pencemaran merkuri.”

Pekan depan, pemerintah dari berbagai negara di seluruh dunia akan bersidang di Jenewa, Swiss untuk membahas langkah selanjutnya untuk perjanjian baru internasional yang mengikat, Konvensi Minamata tentang Merkuri. Penelitian ini menggarisbawahi perlunya panduan untuk mengidentifikasi lokasi yang terkontaminasi merkuri, memantau beban tubuh merkuri, dan mengambil tindakan untuk membatasi sumber utama pencemaran merkuri - pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan PESK.

Menurut Yuyun Ismawati, Senior Advisor BaliFokus dan IPEN Lead for ASGM/Mining, “Jutaan perempuan dan anak-anak di komunitas pertambangan emas dengan merkuri dikutuk ke masa depan dimana merkuri merusak kesehatan orang dewasa dan merusak perkembangan otak keturunan mereka. Selama perdagangan merkuri terus berlanjut, tragedi merkuri juga akan terus berlanjut.”

"Studi ini menggarisbawahi pentingnya kerjasama global untuk mengatasi pencemaran merkuri," kata David Evers, PhD, Direktur Eksekutif dan Peneliti Utama di BRI dan juga penulis studi ini. “Kontaminasi merkuri ada di mana-mana di sistem air laut maupun air tawar di seluruh dunia. Hotspot merkuri biologis merupakan hal yang umum secara global dan berkaitan dengan berbagai aktivitas manusia. Untuk alasan ini, sangat penting agar kita terus melakukan upaya biomonitoring untuk melacak dampak potensial pada masyarakat lokal dan lingkungan untuk mengevaluasi efektivitas Konvensi Minamata.”

"Sangat mengkhawatirkan ketika mengetahui bahwa anda memiliki kadar racun merkuri yang tinggi di tubuh anda dan akibatnya, Anda memilikinya, tanpa mengetahuinya, dan mengeluarkan merkuri kepada anak anda,” Menurut Imogen Ingram dari Island Sustainability Alliance yang tinggal di kepulauan Cook dan mengetahui bahwa kadar merkuri di dalam tubuhnya dua setengah kali lipat dari ambang batas yang dianjurkan oleh US EPA. “Kontaminasi merkuri di seluruh kepulauan Pasifik sangat tinggi karena kita makan ikan. Tapi saya tidak mau diberitahu untuk tidak makan ikan. Pembangkit listrik berbahan bakar batubara, salah satu sumber utama pencemaran merkuri di lautan, adalah pelaku sebenarnya. Sudah waktunya untuk dihapuskan.”

------------------

IPEN adalah jaringan organisasi non-pemerintah yang bekerja di lebih dari 100 negara untuk mengurangi dan menghilangkan bahaya bahan kimia beracun terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. www.ipen.org

Misi dari Biodiversity Research Institute (BRI) adalah untuk menilai ancaman yang muncul terhadap satwa liar dan ekosistem melalui penelitian kolaboratif, dan menggunakan temuan ilmiah untuk memajukan kesadaran lingkungan dan menginformasikannya kepada para pengambil keputusan. www.briloon.org

BaliFokus adalah sebuah organisasi non-pemerintah Indonesia yang bekerja untuk meningkatkan kapasitas, kualitas hidup masyarakat dan menganjurkan lingkungan bebas racun dan bersama semua pemangku kepentingan secara berkelanjutan. www.balifokus.asia

-----------------

Dokumen siaran pers ini dapat diunduh disini.

Laporan studi ini dapat diunduh disini (English).

Ringkasan Eksekutif dari laporan studi ini dapat diunduh disini (Bahasa Indonesia) dan disini (English).

#Mercury #ASGM #Toxics #Hair

0 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA