Search
  • Admin

Keracunan Merkuri: Minamata setelah 60 tahun dan 15 tahun di Indonesia


UNTUK DIRILIS SEGERA

Nara Hubung:

Sonia - sonia@balifokus.asia, 087782378890

Yuyun - yuyun@balifokus.asia, WA +447583768707

Jakarta, 12 Desember 2016 - Sebuah tragedi pencemaran dan keracunan merkuri yang terkenal di seluruh dunia terjadi 60 tahun yang lalu di Minamata yang disebabkan oleh pencemaran industri. Hari ini, lebih dari 60.000 korban penyakit Minamata di Jepang masih berjuang untuk keadilan dan pengakuan. Sementara itu di Indonesia, 15 tahun terakhir banyak ditemukan 'penyakit aneh' dan bayi-bayi lahir cacat bermunculan di daerah-daerah terpencil, diduga akibat keracunan merkuri yang digunakan oleh orang tua dan tetangga mereka untuk mengekstrak emas.

Dua korban Penyakit Minamata dari Jepang disampaikan kesaksian mereka pekan ini di Jakarta menyatakan bahwa mereka menderita gejala penyakit Minamata sejak kecil saat mereka mengkonsumsi ikan yang tercemar merkuri dari Teluk Minamata. Chisso corporation membersihkan pencemaran merkuri di Teluk Minamata selama 14 tahund an menghabiskan USD 360 juta.

"Enam puluh tahun setelah tragedi itu, jumlah orang yang hidup dengan gejala penyakit Minamata tumbuh," kata Yoichi Tani, Sekretaris Jenderal Minamata Disease Victim Mutual Aid Society. "Tergantung pada kerentanan dan masa pajanan terhadap merkuri, beberapa orang mengalami efek keracunan merkuri yang baru muncul belakangan. Hingga saat ini, hanya sekitar 2900 korban yang diakui, sementara itu ada lebih dari 60.000 orang hidup dengan gejala penyakit Minamata di Jepang."

"Di Indonesia, dalam 15 tahun terakhir, merkuri diimpor secara ilegal, diperdagangkan dan digunakan tidak terkendali di 27 Provinsi untuk ekstraksi emas," kata Yuyun Ismawati, Penasihat Senior dan pendiri BaliFokus. "Kami telah mengamati banyak ‘penyakit aneh’ mirip dengan penyakit misterius Minamata pada periode 1960an yang harus mulai dipandang sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat. Pemerintah harus segera melarang produksi, perdagangan dan penggunaan merkuri yang menyengsarakan kelompok rentan."

Baik di Minamata maupun di Indonesia, penemuan kasus-kasus ‘penyakit aneh' tidak dipedulikan oleh pemerintah. Meskipun sumber polusi telah diidentifikasi, kegiatan yang melepas merkuri ke lingkungan belum dihentikan atau dilarang. Di Minamata, air limbah yang mengandung merkuri baru berhenti dibuang ke kanal tahun 1970 setelah diperintahkan oleh pengadilan setempat.

Di Indonesia, meskipun Keputusan Menteri Perdagangan No.75 tahun 2014 telah terbit, yang isinya melarang impor, perdagangan dan penggunaan merkuri untuk sektor pertambangan, tidak ada sanksi atau hukuman bagi pedagang merkuri ilegal, para penjual dan pengguna.

- Halaman satu -

Hingga 2014, Indonesia adalah salah satu importir merkuri ilegal terbesar di dunia. Antara tahun 2001 hingga 2014, sekitar 200-400 ton merkuri masuk ke Indonesia dari berbagai negara. Namun, sejak 2015, Indonesia mulai memproduksi sendiri, memperdagangkan dan mengekspor merkuri yang ditambang dari pertambangan ilegal. Pada tahun 2015, 8 negara mengimpor merkuri dari Indonesia sebesar total 195 ton. Merkuri lokal dijual murah dan bebas melalui media sosial dan dari pintu-ke-pintu.

"Keracunan merkuri merusak hidup anda untuk waktu yang lama. Saya mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi ketika masih kecil dan mulai merasakan gejala-gejala mati rasa, kaki kram ketika saya berusia 15,” kata Hideki Sato. "Masyarakat harus melindungi dan mencegah anak-anak dari paparan merkuri karena tidak ada obat untuk keracunan merkuri."

"Saya juga terpapar merkuri ketika saya masih berusia 6 tahun dan mulai merasakan mati rasa dan sakit kepala parah yang terus menerus sejak remaja," ujar Suemi, istri Hideki. "Anda harus mencari tahu dan mempelajari potensi risiko paparan merkuri di lingkungan anda untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari keracunan merkuri."

Prof. Takashi Yorifuji dari Universitas Okayama menyatakan bahwa, "Walaupun bukan tugas yang mudah untuk membangun hubungan kausal antara paparan merkuri dan dampaknya terhadap kesehatan, ada banyak bukti-bukti keracunan (metil)merkuri."

"Jadi, jika kita mengetahui ada paparan merkuri, kita harus segera melakukan beberapa tindakan pencegahan ketika melakukan penelitian ilmiah," kata Yorifuji.

Yoichi Tani menambahkan bahwa, "Negara-negara yang menggunakan merkuri dengan sengaja harus memiliki regulasi yang kuat untuk mencegah keracunan merkuri lebih lanjut sebelum terlambat dan meratifikasi Konvensi Minamata pada merkuri sesegera mungkin."

Tuti Mintarsih, Direktur Jenderal Sampah, Zat Berbahaya dan Limbah Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, setelah bertemu korban keracunan merkuri dari Minamata dan Indonesia ini hotspot demam emas di kantornya, menyatakan bahwa, "Kita harus belajar dari tragedi Minamata . Semua pemangku kepentingan harus mencegah pencemaran merkuri dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan merkuri yang tidak terkontrol untuk mencapai bebas merkuri Indonesia pada tahun 2020. “

“Sudah menjadi tugas negara adalah menjamin hak warga terutama anak-anak untuk hidup sehat dan tumbuh berkembang menjadi generasi Indonesia yang kuat,” tambah Yuyun, IPEN lead for ASGM/Mining dan penerima Goldman Environmental Prize 2009. “Dahulukan kesehatan lingkungan dan masyarakat di atas kepentingan bisnis bila kita ingin mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Indonesia tidak mampu melakukan intervensi yang sama dengan Minamata.”

- SELESAI -

- SELESAI -


0 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA