Search
  • Sonia Buftheim dan Yuyun Ismawati

Survey Awal Pemahaman Kelompok Profesi Terhadap Dampak Penggunaan Dental Amalgam di Indonesia


Jakarta - Pemahaman tentang bahaya penggunaan amalgam sebagai tambal gigi di kalangan masyarakat masih rendah dan belum populer di Indonesia. Meski sebagian besar klinik gigi dan puskesmas di kota-kota besar sudah beralih ke material keramik/komposit, pemilihan material ini lebih disebabkan karena pertimbangan estetika bukan karena pemahaman akan bahaya dan dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.

Bahan tambal gigi amalgam terdiri dari 50% merkuri, sisanya terdiri logam-logam lain seperti perak, timah, dan tembaga. Setiap kapsul amalgam mengandung sedikitnya 6 mg merkuri dan 6 mg campuran logam lainnya. Tergantung dari kondisi gigi, tambalan dapat menggunakan beberapa kapsul atau hanya separuh isi kapsul.

Dari berbagai studi di negara lain, diungkapkan bahwa akibat paparan penggunaan amalgam di klinik-klinik gigi terhadap para perawat, pekerja gigi dan dokter-dokter gigi dalam jangka panjang berpengaruh buruk terhadap kesehatan reproduksi, sistem syaraf, motorik, kesehatan mental dan daya ingat praktisi gigi. Beberapa penelitian ilmiah juga mengungkapkan dampak genetik amalgam terhadap para praktisi gigi.

Perjanjian Minamata tentang Merkuri telah ditandatangani oleh 128 negara, termasuk Pemerintah Indonesia, pada tgl.10 Oktober 2013 di Kumamoto, Jepang dan telah disepakati untuk mengurangi dan menghentikan penggunaan merkuri pada beberapa produk dan proses pada tahun 2020 serta mengurangi pasokan dan mengendalikan perdagangan merkuri di seluruh dunia. Beberapa produk dan proses pun yang menggunakan merkuri harus phase-out pada tahun 2020.

Khusus untuk dental amalgam, negara-negara anggota diperbolehkan melakukan phase-down pada tahun 2020 sampai alternatif yang lebih aman tersedia di negara yang bersangkutan (Annex B Konvensi Minamata tentang Merkuri).

Di Indonesia, penggunaan dental amalgam masih ditemui di klinik-klinik gigi. Para pekerja kesehatan dan pasien berisiko terpapar merkuri pada proses-proses kegiatan restorasi gigi. Peraturan pemerintah, pengadaan dan pengelolaan lingkungan klinik-klinik gigi belum banyak disoroti di Indonesia.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, BaliFokus berkolaborasi dengan The World Alliance for Mercury-Free Dentistry melaksanakan Survey Awal Pemahaman Kelompok Profesi terhadap Dampak Penggunaan Dental Amalgam di Indonesia.

Metodologi

Survey ini merupakan survey awal untuk mengetahui pemahaman kelompok profesi dan praktisi kedokteran gigi terhadap dampak penggunaan dental amalgam di Indonesia. Survey dilakukan secara online (http://bit.ly/HgFreeDentistry) dengan menggunakan aplikasi kuesioner google doc dan offine dalam bentuk tatap muka di beberapa kota (Jakarta, Depok, Surabaya, Denpasar) pada pertengahan bulan Mei 2016 yang lalu. Pemilihan responden dilakukan secara acak dan sukarela.

Responden

Total responden adalah 50 orang terdiri dari mahasiswa kedokteran gigi, sarjana kedokteran gigi yang sedang co-ass, praktisi umum, dan spesialis kedokteran gigi.

Komposisi gender dari responden: 80% perempuan, 20% laki-laki dengan rentang usia antara 19-58 tahun.

Para responden diberi 15 variasi pertanyaan terkait pemahaman dan respon mereka terhadap penggunaan dental amalgam.

Hasil survey

Adapun hasil survey tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pro-Kontra penggunaan dental amalgam

Mayoritas (82%) responden mengetahui pro dan kontra penggunaan dental amalgam.

Pengamatan BaliFokus: Sebagian besar responden, praktisi dan mahasiswa kedokteran gigi mengetahui adanya pro dan kontra penggunaan amalgam untuk restorasi gigi. Ini adalah informasi awal yang cukup membantu meski masih bersifat umum. Studi lanjutan dapat menggali pengetahuan ini lebih jauh dapat dilakukan.

2. Informasi terkait pro dan kontra penggunaan dental amalgam

Umumnya (58%) responden mengetahui informasi terkait pro dan kontra penggunaan dental amalgam sejak masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi masing-masing.

Pengamatan BaliFokus: Pro dan kontra penggunaan material restorasi gigi masuk dalam kurikulum Sekolah Perawat Gigi, Politeknik Gigi maupun Fakultas Kedokteran Gigi. Namun demikian, tidak diperoleh informasi apakah materi kurikulum juga memuat materi/informasi terkait dampak terhadap lingkungan dan kesehatan pasien dari sektor kedokteran gigi.

3. Pendapat pasien terhadap faktor keamanan dalam penggunaan dental amalgam

Umumnya (58%) pasien mengetahui bahwa penggunaan dental amalgam tidak aman bagi kesehatan mereka.

Pengamatan BaliFokus: Meskipun beberapa responden merasa pertanyaan ini tidak jelas dan agak sukar dijawab karena berkaitan dengan pemahaman pasien, sebagian responden menjawab berdasarkan pengamatan dan ingatan/refleksi interaksi mereka dengan pasien-pasiennya. Pemahaman pasien responden atau klinik gigi tertentu tentang amalgam dapat diteliti lebih jauh.

4. Pendapat praktisi kedokteran gigi terhadap keamanan dan keselamatan kerja dalam penggunaan dental amalgam di klinik gigi

Sekitar 66% responden sepakat bahwa penggunaan dental amalgam tidak aman.

Pengamatan BaliFokus: Meski mayoritas responden sepakat bahwa penggunaan amalgam tidak aman, tidak diperoleh penjelasan kenapa responden mengganggap tidak aman. Dari berbagai forum diskusi dan penelitian yang dilakukan BaliFokus di Indonesia periode 2013-2015, dalam kurikulum Fakultas Kedokteran Gigi, tidak ada pembahasan materi tentang keselamatan dan kesehatan kerja di sektor gigi atau bahaya okupasi (occupational hazard) terkait penggunaan amalgam. Lebih jauh lagi, tidak ada inform consent atau informasi awal kepada pasien tentang konsekuensi medis dari pilihan murah menggunakan amalgam sebagai tambal gigi. Akhir 2015, Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia mengeluarkan peraturan/kebijakan untuk menghapuskan materi dan praktek restorasi gigi dengan amalgam. Diperlukan pemantauan yang menyeluruh untuk memastikan kebijakan baru ini direalisasikan di seluruh Indonesia.

5. Tanda-tanda dan gejala dari keracunan merkuri menurut para responden

Menurut responden tanda-tanda dan gejala dari keracunan merkuri yang paling utama

adalah gangguan sistem saraf pusat (64%), sering sakit kepala (20%), lain-lain (10%) dan sisanya masing-masing 2%.

Pengamatan BaliFokus: Sebagian besar responden memahami gejala keracunan merkuri paling dominan terlihat dari gangguan sistem syaraf pusat. Namun demikian tidak ada penjelasan lebih rinci, jenis gangguan yang dirasakan atau dialami responden sendiri. Penelitian lebih jauh tentang gejala-gejala yag lebih khusus dapat dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap para praktisi kedokteran gigi.

6. Keluhan pasien mengenai warna dari dental amalgam

64% responden menyatakan pasien-pasiennya mengeluhkan warna dari dental amalgam yang tidak serupa dengan warna gigi mereka.

Pengamatan BaliFokus: Pertanyaan ini juga agak membingungkan bagi beberapa responden karena responden tidak ingat atau tidak ada catatan khusus tentang pilihan atau keluhan warna tambal gigi. Namun demikian, informasi ini cukup bermanfaat untuk mengetahui pemahaman pasien atau masyarakat yang berobat ke klinik gigi ybs.

7. Fasa paling berbahaya dari merkuri (dental amalgam) menurut para responden

Sebagian besar responden (58%) berpendapat bahwa merkuri paling berbahaya pada fasa cair/liquid.

Pengamatan BaliFokus: Pertanyaan ini juga agak menjebak karena tidak ada penjelasan apakah yang dimaksudkan dalam pertanyaan ini merkuri yang digunakan dalam tambal gigi atau secara umum. Dalam praktek restorasi gigi, fasa paling berbahaya dari merkuri adalah dalam bentuk uap dan serbuk. Dari berbagai studi/penelitian, fasa uap adalah yang paling berbahaya di klinik gigi karena kegiatan restorasi dilakukan di ruangan kecil yang tertutup, dan untuk mencampurkan, biasanya merkuri dan campuran logam lain harus dilelehkan/diracik oleh perawat lalu baru digunakan oleh dokter gigi untuk menambal. Pada saat pembongkaran tambal gigi dengan amalgam, serbuk halus tambalan sebagian tertelan dan sebagian dapat terhirup oleh praktisi gigi. Konsentrasi uap merkuri di beberapa klinik gigi di 10 Rumah Sakit di Bali melebihi Nilai Ambang Batas aman yang ditetapkan WHO.

8. Merkuri paling cepat dapat diserap melalui apa?

Menurut responden kulit (32%), mulut (28%) dan paru-paru (16%) adalah organ tubuh yang paling cepat menyerap merkuri.

Pengamatan BaliFokus: Secara umum, 80% merkuri yang menguap di udara paling cepat dan mudah diserap lewat paru-paru terutama oleh anak-anak dan perawat yang bertugas meracik amalgam. Perawat gigi yang meracik campuran amalgam kemungkinan memegang bahan tambalan tetapi biasanya mereka menggunakan sarung tangan dan spatula. Sedangkan bagi pasien, ada kemungkinan menelan merkuri dari potongan tambalan baik saat dipasang maupun pembongkaran tambalan gigi. Anak-anak dan perempuan hamil adalah kelompok rawan paparan merkuri. Perlu ada peraturan khusus untuk melindungi anak-anak dan perempuan hamil dari dental amalgam.

9. Pendapat mengenai pelarangan penggunaan dental amalgam

Sekitar 88% responden setuju terhadap pelarangan penggunaan dental amalgam, sedangkan sisanya cenderung ragu-ragu dan tidak setuju.

Pengamatan BaliFokus: Sebagian besar responden praktisi gigi setuju adanya pelarangan penggunaan dental amalgam namun tidak dijelaskan alasannya apa. Hanya beberapa responden yang memberi penjelasan rinci. Beberapa responden menyatakan kemungkinan untuk daerah terpencil masih sulit menghapuskan amalgam untuk restorasi gigi karena minimnya fasilitas dan peralatan.

10. Pengetahuan mengenai alternatif lain selain amalgam

Sekitar 80% responden mengetahui bahwa ada alternatif dari amalgam, yang nyaman dan praktis untuk diaplikasikan.

Pengamatan BaliFokus: Mayoritas responden mengetahui adanya pilihan-pilihan bahan restorasi gigi saat di bangku kuliah. Dari diskusi yang terakhir dilakukan bulan Januari 2016 yang lalu di Jakarta, beberapa mahasiswa dan praktisi Kedokteran Gigi mengatakan bahwa sebetulnya menggunakan amalgam tidak praktis karena memerlukan preparasi yang baik.

11. Akses untuk mendapatkan alternatif dari amalgam

Sekitar 80% responden/lembaga (tempat praktik) para responden memiliki akses untuk mendapatkan alternatif pengganti dental amalgam.

Pengamatan BaliFokus: Informasi ini cukup penting bahwa 80% lembaga tempat responden bekerja, baik rumah sakit, klinik swasta atau pribadi, memiliki akses untuk mendapatkan bahan alternatif dari amalgam. Tidak ada keterangan rinci yang menjelaskan mengapa 20% lagi tidak memiliki akses terhadap alternatif bahan lain.

12. Bahan alternatif yang paling nyaman untuk digunakan untuk restorasi gigi

Bahan alternatif utama yang menjadi pilihan para responden umumnya adalah resin komposit (72%), ART atau Atraumatic Restorative Treatment (16%) dan keramik (12%).

Pengamatan BaliFokus: resin komposit memang lebih disukai karena pertimbangan estetis dan warnanya yang mendekati warna gigi asli. Beberapa ahli restorasi gigi di Indonesia dan internasional sepakat bahwa ART sebetulnya lebih baik digunakan untuk daerah-daerah terpencil dibandingkan amalgam bermerkuri.

13. Kemungkinan untuk menawarkan bahan tambal gigi alternatif selain dari dental amalgam kepada pasien dan memberikan penjelaskan mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing pilihan

Sekitar 88% responden akan menawarkan bahan tambal gigi alternatif serta memberikan penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangannya kepada pasien mereka.

Pengamatan BaliFokus: Informasi ini menggembirakan karena artinya responden juga paham hak pasien untuk tahu apa tindakan yang akan diberikan kepada mereka dan konsekuensinya. Hal ini penting dilakukan terutama jika amalgam akan diaplikasikan pada pasien anak-anak, perempuan hamil dan atau perempuan usia subur.

14. Pengetahuan mengenai pengelolaan air limbah dari klinik

Lebih dari separuh responden (54%) tidak mengetahui kemana air limbah bekas kumur dan bongkar gigi dari klinik mereka mengalir.

Pengamatan BaliFokus: Lebih dari separuh dari responden tidak mengetahui kemana limbah dari klinik mereka mengalir. Beberapa respondendmemberikan penjelasan singkat "Tahu" atau "ke septik tank". Beberapa rumah sakit memiliki instalasi pengolahan air limbah terpusat tetapi tidak memasang jebakan atau saringan amalgam di klinik-klinik gigi, terutama untuk menangkap bongkaran tambal gigi amalgam. Limbah cair dari institusi dimana klinik gigi berada harus memenuhi baku mutu air limbah rumah sakit yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Yang perlu menjadi perhatian adalah klinik-klinik pribadi dan swasta yang berlokasi di permukiman dan kompleks pertokoan yang hanya dilengkapi tangki septik yang tidak memenuhi standar teknis.

15. Rekomendasi bahan alternatif kepada pasien

Sekitar 86% responden akan merekomendasikan bahan alternatif selain dental amalgam dalam praktik mereka.

Pengamatan BaliFokus: Pertanyaan terakhir ini cukup melegakan karena lebih dari tiga-perempat responden akan merekomendasikan bahan tambal gigi lain kepada pasien mereka. Diperlukan kebijakan yang bersifat mandatory atau wajib, perubahan kurikulum, peningkatan kapasitas para praktisi gigi dan ahli profesi serta pelarangan impor, perdagangan serta penggunaan merkuri untuk restorasi gigi terutama untuk anak-anak, perempuan hamil dan perempuan usia subur. Pemantauan berkala untuk memantau dampak terhadap kesehatan para praktisi gigi dan lingkungan klinik gigi serta lingkungan di titik-titik penting di sekitar klinik atau rumah sakit perlu dilaksanakan.

Beberapa kesimpulan yang bisa didapat dari survey ini adalah :

  1. Umumnya responden dan pasien responden sudah tahu mengenai pro dan kontra dari penggunaan dental amalgam di masyarakat namun belum paham dampak amalgam terhadap kesehatan mereka sendiri, pasien dan lingkungan.

  2. Pengetahuan tentang bahaya/pro dan kontra mengenai dental amalgam telah didapat sejak masa pendidikan di kampus masing-masing.

  3. Bahan alternatif pengganti tambal gigi amalgam telah banyak tersedia di pasaran Indonesia.

  4. Alasan estetis menjadi alasan utama pasien tidak memilih dental amalgam sebagai bahan tambalan gigi mereka

  5. Dokter senior (berusia di atas 40 tahun) umumnya lebih “nyaman” dan tidak bermasalah dengan penggunaan dental amalgam dalam praktik mereka.

  6. Mayoritas responden siap dan telah beralih ke bahan alternatif selain dental amalgam.

Rekomendasi untuk para praktisi gigi:

  • Hentikan pembelian dan penggunaan amalgam sebagai tambal gigi atau dalam pekerjaan restorasi gigi di klinik anda.

  • Bila atasan atau lembaga belum mengetahui, check peraturan pengadaan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN). Sejak tahun 2011 amalgam sudah tidak masuk DOEN.

  • Tambal gigi amalgam tidak dimasukkan ke dalam pelayanan yang dijamin oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sehingga anda dapat menawarkan tambal gigi dengan bahan lain yang lebih aman.

  • Jika anda harus membongkar tambalan gigi amalgam, gunakan masker dan alat pelindung diri yang memadai. Informasikan pasien anda bahwa beberapa jam atau hari setelah pembongkaran gigi, akan ada kemungkinan efek samping terhadap kesehatan mereka.

  • Kontak pemilik gedung atau pengelola limbah cair dimana klinik anda berada. Tanyakan kemana limbah cair dari klinik anda mengalir dan bila memungkinkan ajukan permohonan pemasangan jebakan atau filter penangkap merkuri terutama di meja kumur di ruang anda.

  • Periksa ventilasi ruang klinik anda. Usahakan cukup lubang angin dan secara berkala ruangan dibuka agar uap merkuri tidak terkonsentrasi di dalam ruang praktek anda.

  • Keluarkan botol sisa kemasan amalgam dari lemari di ruangan anda, bungkus rapat dengan plastik, lalu tempatkan dalam wadah khusus limbah B3 di bangunan/lembaga klinik anda.

  • Baca referensi-referensi terkait tambal gigi amalgam.

Terimakasih kepada semua responden yang telah berpartisipasi dalam survey awal ini.

Referensi:

  • Bates, Michael N.; Fawcett, Jackie; Garrett, Nick; Cutress, Terry; and Kjellstrom, Tord. 2004. Health effects of dental amalgam exposure: a retrospective cohort study. International Journal of Epidemiology 2004; 33: 894–902. Diakses 22 Juni 2016.

  • Berglund, A. 1990. Estimation by a 24-hour Study of the Daily Dose of Intra-oral Mercury Vapor Inhaled after Release from Dental Amalgam. J Dent Res 69(10):1646-1651, October, 1990. Diakses 24 Juni 2016 http://jdr.sagepub.com/content/69/10/1646.full.pdfGoodricha,

  • Goodrich, Jaclyn M.; Wang, Yi; Gillespie, Brenda; Werner, Robert; Franzblau, Alfred; Basu, Niladri. 2013. Methylmercury and elemental mercury differentially associate with blood pressure among dental professionals. International Journal of Hygiene and Environmental HealthVolume 216, Issue 2, March 2013, Pages 195–201. Diakses 23 Juni 2016 http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1438463912000314

  • Goodrich, Jaclyn M.; Basu, Niladri; Franzblau, Alfred and Dolinoy, Dana C. 2013. Mercury biomarkers and DNA methylation among michigan dental professionals. Environmental and Molecular Mutagenesis. DOI 10.1002/em

  • Halbach, Stefan. 1994. Amalgam Tooth Fillings and Man’s Mercury Burden. Human and Experimental Toxicology, 13: 496-501. Diakses 23 Juni 2016 http://het.sagepub.com/content/13/7/496.full.pdf

  • International Academy of Oral Medicine and Toxicology (IAOMT). Diakses pada 24 Juni 2016.

  • Koral, Stephen M. 2013. Mercury from Dental Amalgam: Exposure and Risk Assessment. Compedium, February 2013, Vol. 34, No. 2. Diakses 23 Juni 2016 https://iaomt.org/wp-content/uploads/Compendium_exposure_final.pdf

  • Langworthl, S.; S'allsten, G.; BarregArd, L.; Cynkierl, I.; Lind, M.L.; and Soderman, E. 1997. Exposure to Mercury Vapor and Impact on Health in the Dental Profession in Sweden. J Dent Res 76(7): 1397-1404, July, 1997. Diakses 24 Juni 2016 http://jdr.sagepub.com/content/76/7/1397.full.pdf

  • Osborne, JW. 2001. Mercury, Its Impact on the Environment and Its Biocompatibility. Operative Dentistry Supplement 6, 2001, 87-103. Diakses 23 Juni 2016 http://www.jopdentonline.org/doi/pdf/10.2341/1559-2863-26-s6-1#page=93

  • UNEP. 2014. Promoting the Phase Down of Dental Amalgam in Developing Countries. Diakses 23 Juni 2016 http://www.unep.org/chemicalsandwaste/Portals/9/Mercury/Products/dental%20mercury%20phase%20down%20project%20brochure%20FINAL_lr.pdf

  • World Alliance for Mercury-free Dentistry http://www.toxicteeth.org/about_Us.aspx

#Toxics #MercuryFreeDentistry

265 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA