Search
  • Anita Syafitri Arif

Waste to Energy Asia Summit 2016 ~ Bali


Awal Juni 2016 ini, tanggal 1 (Rabu) dan 2 (Kamis) ada konfrens international yang diadakan di Ballroom A, Pan Pacific Nirwana Bali Resort, Tanah Lot, Tabanan, Bali. Acara mulai pk. 8.30 dan berakhir pk. 17.00. Dilanjutkan pada tanggal 3 (Jumat) dengan kunjungan lapangan, yaitu meninjau lokasi demonstrasi Pembangkit Listrik berbasis Bambu, di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya, di Panglipuran, Bangli, Bali.

Acara ini bertema besar “Waste to Energy Asia Summit 2016”, terdiri dari dua sub tema, yaitu: “2nd Waste to Energy Asia Summit”, dan “2nd Biogas and Biomass Energy Summit”.

Dalam rangkaian keseluruhan acara ini hadir sedikitnya 120 orang, dari 85 perusahaan, lembaga pemerintah, asosiasi, dan satu lembaga masyarakat sipil, yakni Yayasan BaliFokus. Dari pihak pemerintah ada 5 orang peserta dari KLHK, ada 2 orang dari Kementerian Perindustrian, ada 1 orang dari Dinas PU Provinsi Bali, ada 1 orang dari PLN Pusat, ada 1 orang dari Kementerian ESDM. Dari KADIN (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia ada 8 orang, sebagiannya hadir atas nama perusahaannya.

Hari Pertama (Rabu, 1 Juni 2016)

Acara ini dibuka oleh Fauzi Imron dari KADIN Indonesia, Ketua Komisi Tetap Energi Panas Bumi dan Energi dari Pengolahan Sampah.

Pengamatan penulis, kebanyakan pihak pemerintah tidak serius dan tidak siap dalam berpartisipasi di acara ini. Tercermin dari kenyataan bahwa bahan presentasi mereka tidak termuat dalam buku prosiding, pegangan para peserta. Mereka ini Drs. Sudjoko Harsono Adi, dari Kementerian ESDM, dan DR. Haruki Agustina, MSc. Dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Istilah 3R yang biasanya Reduce, Reuse, Recycle diubah menjadi Reuse, Recycle, Recovery dalam konteks hazardous waste versi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Selanjutnya, dari PT. PLN Persero kelihatan siap, cukup serius dan punya sikap yang juga cukup jelas. Budi Mulyono, Manajer Senior Energi Terbarukan, PLN ini mengemukakan beberapa hambatan dalam implementasi PLTSa, dan bahwa bahwa pihaknya meragukan kelayakan dan keberlanjutan proyek PLTSa ini, beliau juga meragukan tentang PPA (Power Purchasing Agreement) antara Pengembang PLTSa dan PLN nantinya.

Fauzi Imron, dari KADIN Indonesia mengatakan kepada Budi Mulyono, bahwa di presentasinya, pihak PLN menyalahkan pihak pemerintah, dan ini tidak baik dikemukakan di forum ini. Pemerintah dalam PerPres no. 18 tahun 2016 sudah menjamin kompensasi bagi PLN. Dan, karena tujuan utama dari pengembangan PLTSa ini adalah agar kota-kota kita bersih dari sampah, maka listrik hanyalah semacam bonus.

Di saat istirahat siang, Fauzi Imron terlihat berupaya mengembalikan kepercayaan beberapa calon investor, antara lain Crishtophe Cord’homme dari CNIM Group. Kepadanya Fauzi menyarankan CNIM membuat studi kelayakan di wilayah-wilayah yang akan dibangunkan PLTSa. Katanya, pihaknya (KADIN Indonesia) akan menjamin kemudahan di level pemerintah pusat maupun di pemerintah lokal masing-masing. Karena KADIN Indonesia sudah diminta pemerintah untuk berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan para investor. Crish yang kelihatannya tadi sangat memperhatikan presentasi Budi Mulyono, mengatakan antara lain, “It depends on the amount of the waste, and the calorific value of the waste.” Kepada calon investor asing lainnya, Fauzi Imron mengatakan, “PLN must obey the Presidential Decree…”

Di sesi sore, ada sajian “Integrated Hazardous Waste Management” oleh Syarif Hidayat, Direktur SHEQ & Operation, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri. Apa yang disajikan sangat menarik, karena perusahaan ini menangani limbah B3 dengan sangat professional, mulai dari pengumpulan, transportasi, hingga pengelolaan dan pengolahannya. Sayangnya, di akhir penyajian, disebutkan bahwa PT. PPLi ini sudah merencanakan membangun Incineration Plant khusus untuk hazardous waste, sebagaimana mitranya DOWA yang telah membangun dan mengembangkan incineration plant di Thailand.

Juga ada Douglas Manurung, direktur PT. Godang TuaJaya yang menyajikan “Managing TPST Bantargebang in a But Shell.” Dalam paparannya, Douglas mengemukakan beberapa hambatan dan tantangan :

Ketidakseriusan pihak pemerintah untuk urusan publik ini dipertegas dengan kenyataan tidak bertahannya mereka di tempat acara hingga sesi diskusi panel dilangsungkan. Salah seorang panelis yang cukup vokal, Douglas Manurung, mengatakan:

“Seharusnya mereka (delegasi pemerintah) tetap tinggal hingga acara selesai, mengikuti dan mendengarkan masalah kita, apa solusinya, karena kita sebagai investor, praktisi di lapangan yang akan mengalami suka-dukanya dalam pelaksanaan. Tapi, lihat! Sekarang ini tak ada satu pun dari pihak pemerintah nasional yang tetap berada di ruang ini. Mereka datang, bicara, dan kemudian pergi, mungkin sudah pergi belanja di Bali ini. Seandainya mereka ada di sini, mereka bisa tahu dan menyadari bahwa Indonesia perlu adanya komite nasional penangan sampah.”

“Investor jadi khawatir, karena mereka harus menginvestasikan uang mereka dalam jumlah yang banyak, namun bagaimana Indonesia bisa membayar kembali investasi itu? Ini adalah masalah besar Indonesia. Karenanya saya pikir, Indonesia butuh Komite Nasional Pengelolaan Sampah. Terutama dalam hal pengembangan proyek WTE yang butuh investasi besar. Lagi pula permasalahan dari kondisi sampah di Indonesia ini, memiliki nilai kalori (calorific value) yang sangat rendah, tidak ada pemilahan yang baik dari sumber timbulan sampah, dan lebih banyak sampah organik, yang kebasahannya tinggi, terlalu basah untuk dibakar.” Lanjut Douglas Manurung.

Di akhir diskusi panel ini, pengelola TPST Bantargebang ini mengatakan secara gamblang: “Waste to Energy project is not suitable to be implemented in Indonesia.”

Hari Kedua (Kamis, 2 Juni 2016)

Di hari kedua acara ini, Halim Kalla, atas nama KADIN Indonesia tampil sebagai pembicara kunci, beliau juga mewakili PT. Haka Sentra Corporindo dimana beliau adalah presiden direktur. Bahan presentasinya tidak termuat dalam buku prosiding, dan datang cukup terlambat. Halim Kalla bahkan hanya berbicara dengan membaca teks yang dipegangnya, dengan nada datar, monoton yang membuat saya dan mungkin peserta lain juga merasa mengantuk, apalagi tanpa bahan tayangan slide. Semua ini menunjukkan betapa beliau tidak siap dan tidak ada kesungguhan untuk urusan ini.

Penyaji berikutnya, masih dari KADIN Indonesia, Jaya Wahono, yang juga adalah Presiden Direktur PT. Charta Putra Indonesia, yang menjalankan bisnis Clean Power Indonesia. Di Buku Prosiding hanya ada satu slide, namun pada tayangan cukup lengkap dan menarik, bahkan dilengkapi dengan tayangan video. Tepuk tangan meriah dari peserta setelah tayangan berjudul “Bamboo Powering the Archipelago.” Memang terlihat sangat menarik, apalagi dengan warna pemberdayaan masyarakat.

Selanjutnya beberapa pembicara investor asing, antara lain David Paul dari Turboden, asal India, warga Singapore yang tinggal di Karawachi, Tangerang. Ada diskusi panel sebelum waktu istirahat siang. Pada umumnya membahas tentang emisi, teknologi termal (insinerator, gasifikasi dan pirolisis), serta masalah pembiayaan dan keberlanjutan bisnisnya.

Di saat makan siang, penulis mendapatkan beberapa tambahan informasi, bahwa yang hadir di acara ini, kebanyakan berlatarbelakang teknik mesin dan keuangan serta bisnis, baik latar belakang pendidikan, maupun posisinya dalam pekerjaan. Di acara ini penulis tidak (sempat) menemukan yang berlatarbelakang lingkungan hidup, kecuali dari pihak KLHK.

Pada sesi sore, dilanjutkan dengan presentasi dari Yanis Boudjouher, Managing Director, ReEx Capital Asia, yang menyajikan “Innovative Financing for Biomass Projects”, lalu ada Dr Chindarat Taylor, Director, Resource Efficiency Pathway dengan “The rise of waste to energy internationally: Key drivers, markets and growth opportunities”. Kemudian ada Mr. Mark Leslie, CEO & Managing Director, Alternative Energy Corporation Pte Ltd. Memaparkan “Biogas Power Project in Indonesia”, dilanjutkan Desmond Godson, CEO, Asia Biogas Singapore Pte. Ltd dengan sajiannya “Maximising Biogas in Palm Sector – High Solid Empty Fruit Bunch Digestion.”

Diskusi panel diisi oleh Mohamed Fazil Mohamad Saad, Biomass Department, Felda Palm Industries Sdn. Bhd., peserta dari Kuala Lumpur, grup Petronas, dan Joice Caroline, Senior Business Development Manager dari PT. Asia Biogas. Dalam tanya jawab, Joice mengatakan bahwa salah satu masalah dari bisnis listrik dari biogas ini, adalah jumlah pasokan bahan baku, baik dari industri pertanian, perkebunan maupun dari peternakan. Salah satu limbah yang dominan mereka kelola adalah limbah dari produksi minyak kelapa sawit (palm oil). Sama dengan yang dikemukankan pihak Alternative Energy Corporation, saat makan siang tadi. Di ujung diskusi panel ini, penulis dari Yayasan BaliFokus mengajukan pandangan dan pertanyaan.

“Memang, kita bisa melihat bahwa energi alternatif dari biogas dan biomassa jadi bahan bakar maupun listrik ini cukup ramah lingkungan, dibanding energi dari bahan bakar fosil, maupun listrik yang dibangkitkan dengan batubara. Namun, jika kita melihat gambaran yang lebih besar, ada beberapa eksternalitas yang membuat perhitungan climate sepertinya tidak memberi dampak buruk terhadap lingkungan.”

“Dan, seperti yang dikatakan tadi, bahwa dibutuhkan banyak pasokan limbah untuk menjaga jumlah produksi energi. Bahwa limbah itu berasal dari pertanian, perkebunan dan peternakan yang kita tahu juga penyumbang besar gas rumah kaca. Dengan kecenderungan bisnis ini, terlihat adanya kebutuhan yang meningkat akan lahan perkebunan dan perternakan, walaupun tidak secara langsung. Namun, akibatnya bisa terjadi pengalihan fungsi lahan, berupa deforestrasi, pembakaran hutan untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit, dll. Belum lagi jika perkebunan itu menggunakan pestisida dalam prosesnya. Selain itu, teknologi yang digunakan adalah gasifikasi. Ini teknologi termal yang juga akan menyumbangkan polusi bagi lingkungan.”

“Pertanyaan saya, apakah WTE dan Biogas & Biomas jadi listrik ini solusi yang paling baik dalam mencukupi kebutuhan energi listrik maupun dalam hal mengatasi masalah sampah atau limbah dalam kerangka besar isu perubahan iklim?”

Hari Ketiga (Jumat, 3 Juni 2016)

Kami 15 orang berkunjung ke lokasi demonstrasi Pembangkit Listrik dari Bambu, di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya, di Panglipuran, Bangli, Bali. Di kegiatan ini, Jaya menjelaskan beberapa hal, antara lain:

  1. Tidak terjadi alih fungsi lahan, karena bahan baku untuk dijadikan listrik adalah limbah upacara ritual Bali yang banyak menggunakan bambu, juga bambu-bambu yang sudah sangat tua dan perlu peremajaan hutan;

  2. Ada 6000 ha hutan masyarakat yang bisa dikelola secara gotong-royong. Masyarakat hanya perlu melakukan peremajaan hutan, dan akan mendapatkan keuntungan berupa: a. Listrik bersih; b. a. Air bersih yang bisa langsung diminum, dengan pemanfaatan arang untuk karbon aktif, penjernih dan pemurni air; c. a. Lingkungan bersih dari limbah bambu bekas upacara adat.

  3. Listrik dapat dijual ke hotel-hotel seluruh bali melalui kerjasama dengan PLN, bisa dengan harga yang lebih tinggi, karena ini energi bersih. Lebih bersih daripada listrik dari batu bara.;

  4. Juga bisa merestorasi lahan-lahan rusak bekas galian C, di lereng Gunung Batur. dan sekitar sungai dan danau.

Namun, saat demonstrasi “Bamboo Power Plant” itu, rupanya listrik yang dihasilkan melalui teknologi termal, yaitu gasifikasi.

Pemahaman dan Sikap BaliFokus maupun kelompok Penolak Insinerator.

  1. Bahwa gasifikasi dan pirolisis tergolong advanced thermal treatment karena pembakarannya ditutup;

  2. Tapi juga tergantung dari alat pengendali pencemaran udara yang dipasang. Bisa menangkap apa aja, apakah juga bisa menangkap nanopartikel?

  3. Kalau tidak ada asap, berarti residu dan dioxin akan terkonsentrasi dalam abu dan slag. Mau diapakan dan dikemanakan?

  4. Sodara kandung insinerator: gasifikasi, pirolisis, plasma arc;

  5. Gasifikasi, pirolisis dan plasma arc memang tidak sekotor insinerator dalam hal melepas asap ke udara. Temperatur yang digunakan juga kurang dari 1000 C. Tapi racunnya jadi terkonsentrasi di abu dan kerak;

  6. Untuk pengelolaan dan pengolahan limbah bambu upacara di Bali, lebih baik dijadikan briket arang saja, tidak ribet, lebih mudah, dan lebih ramah lingkungan.

Selesai


0 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA