Search
  • Admin

Sumber dan Ragam Dioksin


Studi mengenai zat dioksin sebagai salah satu POPs (Persistent Organic Pollutants) berbahaya menggambarkan sumber, ragam dan turunan dioksin yang layak menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa temuan menyampaikan tentang adanya sumber-sumber dioksin baru, terutama dalam bentuk flame retardants (suatu zat kimia yang dapat menunda atau mencegah pembakaran, biasanya digunakan untuk memadamkan kebakaran serta untuk melapisi benda-benda yang cenderung mudah terbakar). Sumber dioksin diidentifikasi pada pembakaran sampah dan hasil penelitian menemukan PCDD/Fs di sekitar insinerator limbah padat. Konsentrasinya juga timbul di pembakaran limbah terbuka (open burning), lalu lintas darat, dan boiler air panas, merupakan penyumbang terjadinya pencemaran di tanah dan udara.

Cina telah banyak melakukan penelitian tentang dioksin dan secara paralel hampir selama 30 tahun Cina juga membuat brominated flame retardant (BRF). BRF ditemukan pada produk handphone (papan sirkuit dan casing). Sampai dengan tahun 2010 permintaan BRF di Cina akan mencapai 200.000 ton dan tahun 2007 Cina juga memproduksi 25.000 ton sumber dioksin decaBDE (20% dari total dunia). Volume terbesarnya terdapat pada produk elektronik dan telah dilarang di Eropa dan beberapa negara bagian Amerika Serikat. Menurut penelitian yang telah dilakukan kandungan decaBDE ditemukan pada burung pemangsa di Cina.

Sumber lainnya adalah senyawa PFOS (perfluorooctane sulfonate) dan PFOA (perfluorooctanoate) yang dalam produk anti lengket, tahan air dan noda, seperti pada produk alat rumah tangga (non stick cookware, serta produk harian seperti pakaian, karpet, kertas, pelapis tekstil, dan kemasan makanan atau plastik). PFOS dan PFOA cukup tinggi ditemukan dalam darah para pekerja di Cina.

Senyawa kimia PFOS dan PFOA berdampak pada kesehatan, antara lain mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah, dan mengganggu hormon atau proses reproduksi pada wanita yaitu menghambat kehamilan/mengganggu kesuburan/kelahiran cacat

PBDEs menunjukkan kemampuan bioakumulasi (sel mempunyai kemampuan untuk mengakumulasi nutrien dan mineral esensial, sel juga dapat mangabsorpsi dan menyimpan senyawa toksik). Konsentrasi PBDEs tersimpan dalam darah dan jaringan tubuh, serta menempatkan anak-anak terkena resiko paling tinggi untuk terkontaminasi zat berbahaya ini. Hal ini disebabkan karena zat kimia flame retardant biasa digunakan dalam produk keseharian seperti mainan dan perabot (furniture), plastik komputer dan penahan tekstil terbakar.

Bahan dasar PVC (seperti TBC) adalah penyebab terjadinya gangguan kesehatan seperti pneumoconiosis (radang paru-paru) dan dalam proses produksi atau limbah buang PVC dapat menyebabkan juga gangguan hormon (pengurangan jumlah sperma), meningkatkan resiko kanker payudara, serta menurunkan kapasitas sistem kekebalan tubuh.

Plastik dari bahan PVC merupakan jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik dari bahan PVC yang terbakar akan mengeluarkan toksik. Substansi berbahaya PVC terkandung dalam produk seperti pipa paralon, cat dinding interior, dan lainnya

Chlorinated paraffin (SCPP) juga diproduksi di Cina lebih dari 600.000 ton dan mengantarkan Cina untuk “menyesuaikan diri secara urgensi” apabila SCCP terdaftar di Konvensi Stockhlom. Sebuah konsekuensi serius karena penggunaan POPs yang secara kontinyu atau terus menerus akan mengancam masyarakat dan kehidupan sekelilingnya.

Flame retardant baru ditemukan seperti dechlorane plus, DBHPBT, dan TBC. Dechlorane plus digunakan sebagai pengganti Mirex (terdaftar dalam Konvensi Stockhlom). Produksinya sebanyak ribuan ton dijual dan terdapat di dalam berbagai jenis produk komersial, seperti kawat kabel listrik, bahan atap, dan bahan lainnya yang telah ada lebih dari 40 tahun. Di Cina, bioakumulasi dechlorane plus terjadi dalam rantai makanan di dekat lokasi daur ulang limbah elektronik, sedangkan di Korea dilaporkan adanya kandungan dechlorane plus pada ikan. DBHPBT terdapat dalam plastik, lilin, cat, lem, penyegel, dan lain-lain. Di Jepang digunakan untuk bahan plastik bangunan dan bagian mobil. Sifat DBHPBT meskipun tidak benar-benar beracun di Jepang sudah dianggap sebagai POPs.

TBB dan TBPH adalah pengganti untuk pentaBDE yang baru-baru ini terdaftar di Konvensi Stockholm. Sumber-sumber flame retardant ini ditemukan di air laut timur Hong Kong dan konsentrasinya semakin meningkat di setiap tahunnya sejak 2004. POPs lain yang juga muncul adalah HBCD yaitu zat yang ‘dicalonkan’ pada Konvensi Stockholm. Zat ini ditemukan di beberapa wilayah di negara-negara Asia Tenggara, Jepang, Ceko, Swedia, dan Cina. HBCD ditemukan di lokasi daur ulang limbah elektronik, debu rumah, mamalia laut, limbah lumpur dan sedimen sungai, elang, kulit pohon, dan ikan. Studi-studi biomonitoring manusia menemukan HBCD pada ASI (air susu ibu) di India dan Cina. TBBPA, Tris fostat, dan PFC (perfluorokarbon, termasuk PFOS) adalah zat temuan lainnya yang hadir terutama di ASI, dan produk lain seperti susu kemasan, sayuran, dalam organisme/makhluk hidup (moluska, lumba-lumba, capung) dan lokasi-lokasi seperti tambak udang, sedimen, limbah pabrik pengolahan, sungai, dan bendungan air.

Salah satu sumber utama dioksin terbrominasi, terklorinasi, dan terhalogenasi di dunia adalah limbah elektronik. Praktek daur ulang limbah elektronik seperti pembakaran PVC terdapat dalam kabel dan body barang elektronik, ketika dibakar membentuk dioksin dan furans, serta PBDEs

Kemunculan katak yang cacat di berbagai bagian dunia menunjukkan bahwa katak adalah spesies yang sensitif terhadap dampak pencemaran atau kontaminasi lingkungan. Tampak dengan adanya tungkai yang hilang, kaki tambahan, dan kaki yang pendek. Menurut penelitian di Cina, penyebab katak cacat adalah pestisida, dengan mengesampingkan penyebab lain seperti infeksi parasit dan radiasi ultra violet. Metode CALUX saat ini digunakan untuk menganalisis dioksin secara cepat atau merupakan metode pengukuran cepat untuk aktivitas dioksin. Uji CALUX telah dikembangkan agar 100 sampai dengan 250 kali lebih sensitif. Metode ini memberikan peluang yang menjanjikan untuk mengembangkan penelitian secara lebih efektif tentang tingkat dioksin dalam berbagai sampel.

Masyarakat penting mengetahui informasi beragam polutan beracun dan mampu mengambil sikap atau tindakan dalam menangani permasalahan limbah, seperti misalnya tidak membakar sampah atau berhati-hati memilih barang plastik. Konsep zero waste dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) adalah pendekatan untuk menerapkan pengelolaan limbah yang lebih bijak. Tentunya diperlukan komitmen bersama untuk penanganan sampah atau limbah di lingkungan kita.

#Article #Toxics #PVC #Dioxins #EWaste

353 views

© 2019 by Nexus3/BaliFokus Foundation

All Rights Reserved

​​Call us:

+62-361-233520

​Find us: 

Mandalawangi 5, Jln. Tukad Tegalwangi, Sesetan

Denpasar 80223 Bali - INDONESIA